Komitmen Yayasan Persekolahan Umat Katolik (Sanpukat) untuk memerhatikan kebutuhan sekolah-sekolah miliknya terus diwujudkan melalui berbagai bentuk kolaborasi. Salah satunya bersama Yayasan Vinea Dei atau dikenal juga dengan nama Yayasan Jala Kasih, yang pada tanggal 23–25 Juni 2026 menyalurkan bantuan pendidikan kepada tiga sekolah di wilayah yang cukup sulit di Kabupaten Sikka, yakni SDK Warut, SDK Hale, dan SDK Gusung Karang.
Bantuan tersebut berupa tas sekolah, sepatu, dan alat tulis untuk para siswa, juga beberapa buah Rosario. Sementara untuk sekolah, diberikan bantuan bola dan alat pompa, juga seragam olahraga untuk para guru. Seluruh bantuan diantar langsung oleh Pak Krisna, staf Yayasan Jala Kasih, bersama Celo Tukan (relawan) dan P. Yuvens Rodos, CSR, didampingi Ketua Sanpukat, RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th. (RD. Okto), dan Sekretaris Sanpukat, Benyamin. Y. Bisa, S. Fil.
Untuk diketahui, Yayasan Vinea Dei sendiri didirikan oleh Albert Gregory Tan, seorang pemuda Katolik yang menggerakkan karya sosial melalui penggalangan kolekte daring. Dari donasi para dermawan dengan nominal yang beragam—mulai dari Rp5.000 hingga ratusan juta rupiah—yayasan ini telah membantu pembangunan gereja, kapela, serta menjalankan Program Bakti Sosial bagi sekolah-sekolah di daerah terpencil di berbagai wilayah Indonesia.
“Tidak ada batasan nominal. Ada yang memberi lima ribu rupiah, sepuluh ribu, seratus ribu, satu juta, bahkan sampai dua ratus lima puluh juta rupiah. Semua berasal dari orang-orang baik yang ingin berbagi dan kami salurkan kembali kepada mereka yang membutuhkan,” ujar Krisna.
Krisna menuturkan, ketika Program Bakti Sosial tahun ini diarahkan ke Indonesia Timur, Kabupaten Sikka menjadi salah satu wilayah yang dipilih. Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, Krisna berkoordinasi dengan Ketua Sanpukat, RD. Okto. Berdasarkan pendampingan yang selama ini dilakukan Sanpukat terhadap sekolah-sekolah di bawah naungannya, dipilihlah SDK Warut, SDK Hale, dan SDK Gusung Karang sebagai penerima bantuan.
Koordinasi yang melibatkan Sanpukat, Biara Somascan, Yayasan Vinea Dei, dan para kepala sekolah akhirnya mengantarkan bantuan tersebut tiba langsung di tangan para siswa.

Menembus Jalan Menuju SDK Warut
Perjalanan pertama dilakukan menuju SDK Warut pada Selasa, 23 Juni 2026.
Dua kendaraan berangkat menuju sekolah tersebut. Mobil “Terios Barca” membawa rombongan Sanpukat, sementara mobil pikap yang mengangkut bantuan ditumpangi Pak Krisna dan relawan lainnya. Perjalanan ini sekaligus menjadi kunjungan perdana Ketua Sanpukat ke sekolah tersebut, sehingga dipandu oleh Yohanes Fakundo, S. Pd., Guru SMPK Runu Puhun.
Sepanjang perjalanan, ketika mulai memasuki wilayah tersebut, rombongan disuguhi kondisi jalan yang berbatu, bergelombang, dan jalanan yang tidak mulus. Medan yang cukup berat tersebut menjadi gambaran nyata tantangan yang dihadapi masyarakat setempat setiap hari.
Keterbatasan infrastruktur tidak hanya memengaruhi akses transportasi, tetapi juga berdampak pada pengadaan listrik, jaringan komunikasi, hingga akses pendidikan. Bahkan beberapa siswa SDK Warut harus berjalan kaki sejauh dua hingga tiga kilometer untuk sampai ke sekolah setiap hari.
Dalam sambutannya usai menyambut rombongan Sanpukat dan Yayasan Vineas Dei, Plt Kepala SDK Warut, Alfaritus Nong Erik, S. Pd., menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Yayasan Jala Kasih dan Sanpukat.
“Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada anak-anak kami. Bantuan ini sangat berarti dan menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus bersekolah. Kami juga berterima kasih karena para donatur dan Romo bersedia datang langsung ke Warut meskipun perjalanan menuju tempat ini cukup berat,” katanya.

Staf Yayasan Vinea Dei, Pak Krisna, menuturkan bahwa bantuan itu mungkin hanya berupa perlengkapan sekolah. Namun, di balik setiap barang yang mereka terima, tersimpan kepedulian banyak orang yang bahkan tidak pernah mereka jumpai.
Bantuan itu juga tidak berasal dari satu atau dua orang saja, melainkan dari begitu banyak donatur yang dengan sukarela menyisihkan sebagian rezekinya melalui kolekte daring yang dihimpun.
“Adik-adik harus tahu bahwa kita tidak pernah kekurangan orang baik. Mungkin selama ini kita merasa tinggal jauh dari kota atau jarang mendapat perhatian, tetapi di luar sana masih banyak orang yang peduli kepada kalian. Mereka peduli terhadap pendidikan kalian dan percaya bahwa kalian akan memiliki masa depan yang baik. Bantuan yang kalian terima hari ini adalah bukti bahwa kalian tidak pernah berjalan sendiri,” ujar Krisna.
Ia berharap bantuan tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sekolah, tetapi juga menjadi penyemangat bagi anak-anak untuk terus belajar dan meraih cita-cita.
Pesan tersebut kemudian diperkuat oleh Ketua Sanpukat, RD. Okto. Menurutnya, kehadiran Yayasan Vinea Dei menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap dunia pendidikan masih tumbuh di tengah masyarakat. Karena itu, Sanpukat terus berupaya membangun jejaring dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pendidikan anak-anak di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungannya.
“Apa yang disampaikan Pak Krisna benar. Kita tidak pernah kekurangan cinta dan perhatian dari orang-orang baik. Justru karena itulah Sanpukat terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Yayasan Vinea Dei adalah salah satu mitra yang hari ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama,” kata RD. Okto.
Ia juga mengingatkan para peserta didik untuk menghargai setiap bantuan yang telah diterima.
“Rawatlah tas, sepatu, alat tulis, rosario, maupun bola yang kalian terima hari ini dengan baik. Semua itu adalah buah kasih dari banyak orang yang mungkin tidak pernah kalian kenal. Cara terbaik membalas kebaikan mereka adalah dengan belajar sungguh-sungguh, menjaga barang-barang ini, dan kelak ketika kalian berhasil, kalian pun dapat menjadi orang baik yang membantu sesama.”

Perjalanan menuju SDK Warut meninggalkan kesan yang mendalam. Jalan berbatu yang dilalui hari itu seakan menjadi pengingat bahwa pelayanan pendidikan di daerah-daerah terpencil tidak pernah lahir dari kemudahan.
Jauh sebelum konsep mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi cita-cita nasional, para misionaris telah lebih dahulu menembus daerah-daerah yang terisolasi untuk membuka sekolah, mengajarkan membaca dan menulis, sekaligus menanamkan nilai-nilai iman dan kemanusiaan. Semangat yang sama itu kini terus dihidupi oleh para guru yang setia mengabdi di sekolah-sekolah pelosok.
Perjalanan ke SDK Warut juga menjadi pengingat bahwa membangun pendidikan bukan saja melulu tentang menghadirkan gedung atau fasilitas. Pendidikan juga dibangun melalui perhatian, kolaborasi, dan keyakinan bahwa setiap anak, di mana pun mereka berada, berhak merasakan kasih, memperoleh kesempatan belajar, dan memiliki harapan yang sama untuk meraih masa depan. (Wue Admin)

