Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT) Maumere, RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th., berkenan memberkati ruang kepala SDK Halat pada Sabtu, 14 Februari 2026, di SDK Halat. Acara ini diawali dengan misa syukur yang dipimpin oleh RD. Okto sendiri. Selain ruang kepala sekolah, seluruh ruang kelas, dan gedung lainnya juga direciki dengan air berkat.
Hadir dalam kesempatan ini, Darius Evensius, anggota DPRD Kabupaten Sikka; Maria Geltrudis Alestri Sute, S. STP, Sekretaris Camat Kecamatan Nele; komite sekolah; dan para orangtua murid.
Dalam kotbahnya yang merefleksikan tentang garam dan terang, RD. Okto menegaskan bahwa sesuatu yang kecil dapat memberi pengaruh yang besar, seperti garam.
“Garam, sekalipun kecil, ia memberi rasa. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang kecil dapat memberi nilai dan pengaruh. Demikian pun dengan bantuan, sekalipun kecil dan sederhana, ia memberi nilai yang berati bagi yang membutuhkan,” terang RD. Okto.
RD. Okto juga berharap, secara khusus bagi para guru, agar selalu menjaga profesionalitas agar menjadi terang dan garam bagi para murid.
“SDK Halat ini sudah berusia 114 tahun, dan banyak alumninya yang sudah menjadi garam dan terang di luar sana. Oleh sebab itu, kita para guru pun harus menjaga semangat ini dengan menjadi terang dan garam bagi anak-anak murid kita,” sambungnya lagi.
Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Darius Evensius, dalam sambutannya menjelaskan bahwa perjuangan sekolah swasta untuk mempertahankan eksistensinya memang tidak mudah saat ini.
“Perjuangan sekolah swasta saat ini memang cukup berat ketika pemerintah lebih fokus mengembangkan sekolah-sekolah negeri. Dan polemik sekolah ‘swasta-negeri’ ini terjadi di seluruh Indonesia. Kami di Paroki Nele ini sudah membulatkan tekad untuk tidak mengalih statuskan sekolah-sekolah Sanpukat, karena ini adalah sekolah milik umat. Peran sekolah Sanpukat itu luar biasa karena sudah menjadi pilar utama pendidikan yang jauh sudah ada lebih dulu sebelum kemerdekaan,” tegas sosok sederhana yang sudah menduduki kursi DPRD empat periode ini.
Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya memiliki nilai lebih dari sebuah sekolah yang menjadi ciri khas, dan menarik anak-anak untuk mau bersekolah di sekolah tersebut.
“Harus ada satu nilai lebih atau satu keunggulan dari SDK Halat yang tidak ada pada sekolah lain, mengingat sekolah-sekolah saat ini tengah bersaing. Kita bisa menonjolkan diri lewat satu kelebihan kita, misalnya Bahasa Inggris atau cabang olahraga tertentu. Dulu saya pernah membiayai seorang guru di sekolah ini untuk mengajar Bahasa Inggris, dan itu berlangsung selama kurang lebih tiga tahun,” ucapnya.
Menanggapi penyampaian dari Darius, Sekretaris Camat Kecamatan Nele, Maria Geltrudis Alestri Sute, S, STP., menyarankan ekstrakurikuler karate untuk anak-anak SDK Halat.
“Kebetulan saya juga seorang pelatih karate, dan sudah membuka pelatihan di beberapa sekolah, termasuk di wilayah Kecamatan Nele. Menanggapi apa yang dikatakan bapak Evensius tadi, saya kira hal ini juga bisa menjadi daya tarik dan kekhasan dari SDK Halat ini,” ujar perempuan yang dikenal dengan nama Ari Tiwa ini.
Sementara itu, Kepala SDK Halat, Theresia Marsela, S. Ag., sangat bersyukur atas bantuan satu ruangan kepala sekolah tersebut. Ia juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung sekolah yang dipimpinnya. Pada kesempatan itu pula, Theresia menunjukkan keadaan terkini SDK Halat.
“Saat ini, ada satu ruangan yang terpaksa kami kosongkan karena kondisi kuda-kuda atap ruangan yang rapuh. Kami sudah coba menopangnya dengan tiang bambu, tetapi itu belum cukup. Saya tidak ingin kejadian tak diinginkan terjadi kepada anak-anak murid saya. Jadi, kami terpaksa menata kembali gudang dan menjadikannya sebagai ruang kelas darurat,” ujar Theresia. (Wue Admin)

