Orang-orang dengan mental petarung percaya, bahwa cita-cita itu tidak akan pernah gagal untuk diraih, dan mimpi tidak pernah menemui kata mustahil untuk diwujudkan. Cita-cita yang tak tercapai bukan berarti bahwa ia telah terkubur, tetapi mereka yakin bahwa cita-cita itu hanya sedang ‘tertunda’. Motivasi diri, kesempatan, dan dukungan adalah senjata yang rupanya cukup ampuh untuk tancap gas mengejar cita-cita itu kembali.
Barangkali, mental ini juga dimilki Maria Estovia, S. Pd., yang saat ini mengampu matapelajaran Pendidikan Pancasila di SMPK Susila Koting.
“Gelar sarjana adalah cita-cita saya waktu kecil yang belum tercapai,” ujarnya mengawali bincang-bincang singkat bersama Admin via WA.
“Sebelumnya, saya menempuh pendidikan D2 Ilmu Perpustakaan. Di tempat saya bekerja, saya ditugaskan menjadi operator sekolah karena saya dianggap memiliki kemampuan yang baik dalam mengoperasikan komputer,” katanya lagi.
Namun, dalam perjalanan waktu, Ibu Esto, demikian ia biasa dipanggil, melihat ada peluang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Lilin harapan yang selama ini ia jaga nyalanya perlahan mulai menunjukkan jalan.
“Dalam perjalan waktu, saya melihat ada peluang bagi saya untuk berkembang lebih maju ke depannya, yaitu melanjutkan pendidikan sampai menjadi sarjana.”
Ibu Esto gercep, dan tidak ingin kehilangan momen. Dengan segala keyakinan, motivasi, kesempatan, dan dukungan yang ia dapatkan dari tempatnya bekerja, Ibu Esto memantapkan dirinya untuk menjadi seorang guru.
“Dukungan dari kepala sekolah dan teman-teman guru memantapkan saya untuk menjadi seorang guru. Memilih profesi sebagai seorang guru adalah pilihan yang saya ambil dengan penuh keyakinan. Saya percaya bahwa pendidikan adalah investasi terbaik yang dapat kita berikan kepada generasi muda, selain memberi saya kesempatan untuk terus belajar dan berkembang,’ ungkap guru asal Koting ini.
Keputusan untuk berkuliah lagi, pada sisi lain, telah menambah satu lagi tanggung jawab baru di tengah kesibukannya di sekolah. Ia pun harus membagi waktu dengan baik antara urusan kampus dan kepentingan sekolah. Namun, bagi guru kelahiran 15 November 1988 ini, hal itu bukanlah masalah.
“Selama proses perkuliahan saya dipercayakan untuk mengajar mapel PKN sesuai jurusan kuliah saya, dan tetap bekerja sebagai Operator Sekolah. Tapi, saya bersyukur perkuliahan saya di Universitas Terbuka sangat fleksibel. Saya dapat belajar kapan saja dan di mana saja dengan sistem tugas yang dapat diatur sesuai kebutuhan. Dengan demikian, saya dapat mengatur waktu perkuliahan di tengah aktivitas saya yang cukup padat di sekolah, sehingga dapat lulus tepat waktu,” cerita Ibu Esto.

Dengan mental dan motivasi yang kurang lebih sama, Adeltrudis Bedo, S. Pd., guru di SDK Maumere 2, juga memantapkan diri untuk melenggang ke bangku kuliah untuk mengejar gelar sarjana. Hiruk pikuk dunia perkotaan di sekitar tempatnya mengabdi tidak membuat guru wali kelas 3 ini terlena dan cepat puas diri. Baginya, itu justru menjadi kesempatan untuk mengembangkan potensinya.
“Selain untuk memenuhi tuntutan sekolah bahwa semua tenaga pendidik harus sarjana, motivasi utama saya adalah keinginan saya untuk mengembangkan karier ke depan sebagai guru yang profesional dan berkompeten.”
Senada dengan Ibu Esto, Pak Rudi, demikian ia biasa disapa, merasa cukup tertantang karena harus membagi waktu antara urusan sekolah dan urusan kuliah. Guru asal Paroki Lekebai ini awalnya cukup kesulitan membagi waktu antara urusan perkuliahan dan sekolah.
“Kesulitan yang saya alami selama mengikuti proses perkuliahan adalah susahnya membagi waktu untuk mengikuti kuliah, tetapi pada saat yang bersamaan, saya harus melaksanakan tugas mengajar dan tugas tambahan dari sekolah,” akunya.
Namun, bagi seorang guru yang berkomitmen untuk mengembangkan diri dan potensi, membagi waktu bukanlah masalah. Yang terpenting adalah tidak melalaikan tanggung jawab.
Komitmen dan keinginan untuk terus berkembang, juga kemampuan untuk menyesuaikan diri di tengah kesibukan pada akhirnya mengantar Ibu Esto dan Pak Rudy berlabuh di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Jakarta.
Pada 25 November 2025, di gedung UTCC Pondok Cabe, Jakarta, semesta memberikan jawaban atas semangat, doa, dan ketekunan mereka. Hari itu, bersama rekan-rekan guru lainnya, mereka diwisuda dan resmi menyandang gelar sarjana. Gelar ‘S.Pd.’ akhirnya melekat permanen di belakang nama mereka. Sungguh buah yang manis dari penantian panjang, harapan yang dijaga rapi, dan ketekunan untuk mengembangkan diri.

Namun, keduanya tetap menyadari bahwa “semakin bertambah gelar, maka semakin banyak tanggung jawab. Keberhasilan meraih gelar bukan berarti bahwa perjuangan sudah selesai. Acara wisuda yang terjadi kemarin justru menjadi pintu awal untuk mengejawantahkan visi sebagai seorang guru.
“Saya ingin memberikan dampak positif bagi perkembangan pendidikan di SMPK Susila Koting, dan membentuk hubungan yang kuat dengan siswa-siswa dan rekan-rekan guru demi memajukan dunia pendidikan; secara khusus dalam mendidik generasi muda Koting yang lebih baik lagi,” ujar Ibu Esto, yang mengampu pelajaran Pendidikan Pancasila ini.
Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik(SANPUKAT), RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th., menyambut keberhasilan ini dengan sukacita. RD. Okto sangat mengapresiasi dedikasi dan niat baik para guru ini.
“Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan dedikasi Anda. Sebagai guru Sanpukat yang diwisuda, Anda bisa berbangga atas pencapaian ini. Momen ini sejatinya bukan tentang kelulusan saja, tetapi juga bentuk kontribusi Anda dalam membentuk generasi penerus yang lebih baik lagi.”
Kini, euforia kelulusan telah selesai. Ibu Esto dan Pak Rudy telah kembali ke tempat pengabdian mereka masing-masing untuk melanjutkan pengabdian mereka dengan semangat yang lebih baru. Adapun masih ada beberapa guru yang turut diwisuda, tetapi Admin kesulitan untuk menghubungi mereka.
Pada akhirnya, untuk semua dedikasi, kerja keras, dan semangat untuk mengembangkan diri dari para guru ini, kita mengucapkan proficiat dan selamat mengabdi kembali. (Mariemon)

