“Kalian belajar bukan saja untuk mengetahui ‘apa itu api’, tetapi juga agar kalian tahu bagaimana cara membuat api,” demikian kata P. Leo Kleden, SVD dalam sebuah kesempatan kuliah Filsafat Manusia di Ledalero. Kata-kata ini tentunya bukan saja puitis, tetapi memiliki daya magis yang menyentil soal bagaimana seorang guru dan murid seharusnya mengimplementasikan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Guru yang baik adalah guru yang mampu membawa api semangat ke dalam ruang kelas, yang cahayanya turut merambah dalam keseharian. Sementara murid yang baik adalah murid yang mampu menerima api pengetahuan dengan penuh kesiapan diri.
Hal inilah yang diyakini Ana Aprila, M. Pd., pengawas Pendidikan Dasar Klaster IX Kabupaten Sikka, dan ia kembangkan dalam karya tulisnya yang berbicara soal transformasi kelompok kerja menuju komunitas belajar.
“Di dalamnya saya membahas tentang kegiatan bulanan rutin, refleksi Pendidikan, bagaimana memberi materi belajar, hingga implementasi bahan ajar,” kata Ibu Ana yang mengaku grogi ketika ngobrol sante di Kantor Sanpukat.
Semangat pengabdian dan kepedulian akan Pendidikan yang ia tuangkan dalam karya tulis itu adalah salah satu syarat yang harus ia penuhi ketika ia melenggang ke panggung Apresiasi GTK Provinsi NTT 2025 pada November 2025 lalu.
“Sebenarnya melalui kegiatan ini, saya ingin berbagi pemahaman, juga mau belajar dari rekan-rekan pengawas dari kabupaten lain. Tapi yang paling penting adalah saya ingin agar semua hal baik yang sudah dibuat ini diketahui lebih luas,” ujarnya.
Ajang Apresiasi GTK Provinsi NTT 2025 ini menghadirkan beberapa kategori lomba, di antaranya untuk guru, tenaga administrasi, dan pengawas. Ibu Ana bergabung pada kategori terakhir. Dalam tahapan lomba yang diikuti Ibu Ana, para peserta harus menyiapkan satu karya tulis dan sebuah video pendek kreatif yang berkaitan dengan karya tulis mereka.
Tahap selanjutnya adalah wawancara dengan para peserta. Pada tahap ini, Ibu Ana menceritakan pengalamannya yang cukup menarik.
“Yang paling menarik adalah saat sesi wawancara. Waktu itu, jadwal wawancara bertepatan dengan kegiatan di Boganatar. Kami sedang dalam perjalanan pulang. Saya berusaha untuk tetap terhubung dalam jaringan, meski jaringan internetnya ilang muncul (I). Tapi, saya tetap semangat dan puji Tuhan, sesi wawancara dapat berlangsung baik.”
Menjaga api semangat rupanya bukan kata-kata kosong belaka untuk wanita berkacamata ini. Meski dalam situasi terbatas, Ibu Ana tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam ajang ini.
Semangat yang tak pernah padam inilah yang pada akhirnya membawa wanita kelahiran Blawuk ini menggondol prestasi sebagai Terbaik 2 Pengawas Dedikatif DIKDAS GTK Provinsi NTT. Prestasi ini menjadi bukti bahwa kegigihan, semangat, dan kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi adalah sikap-sikap penting yang dapat mengantar seseorang menuju puncak tangga keberhasilan.

Untuk diketahui, ada tiga sekolah SANPUKAT yang berada di wilayah Klaster IX dan berada di bawah pengawasan Ibu Ana. Tiga sekolah itu adalah SMPK St. Antonius Boganatar, SMPK Bank Saller, dan SMPK Runu Puhun. Apresiasi ini perlu sebagai ucapan terima kasih atas perhatian untuk sekolah-sekolah yang berada dalam naungan Sanpukat.
Menurut Ibu Ana, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dari sekolah-sekolah Sanpukat dalam wilayah Klaster IX ini. Sanpukat sebagai yayasan penaung perlu melakukan intervensi untuk meningkatkan kompetensi para gurunya. Ada beberapa PR yang perlu dikerjakan oleh Sanpukat, mengingat ada angka-angka yang harus diperbaiki dari sekolah-sekolah Sanpukat di wilayah klasternya. Demikian pesannya kepada Sanpukat.
Kepada guru-guru, Ibu Ana menegaskan bahwa tugas guru bukanlah wadah, tetapi seorang guru harus mampu menimbulkan api semangat agar para murid dapat meresapi materi dengan baik.
“Semakin banyak konsep dan pelajaran yang diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, akan semakin kokoh fondasi pengetahuannya,” ujar Ibu Ana.
Keberhasilan yang diraih Ibu Ana adalah contoh kecil dari apa yang disampaikan Pater Leo yang sempat disinggung pada bagian awal tadi. Belajar tidak semata-mata membuat seseorang memiliki banyak pengetahuan, tetapi lebih dari pada itu, ilmu itu diwujudnyatakan dan diterapkan dalam keseharian. Barangkali, di situlah luhurnya sebuah nilai pendidikan. (Mariemon)


Kk Ana Aprila, pengawas yang berdedikasi dengan kesungguhan pengabdian begitu tinggi. Semangat yang dibawa berdampak luas bagi sekolah dampingan..terbaik💪
Semoga kisah Ibu Ana ini menjadi inspirasi bagi kita semua.