Oleh: Maria Susi Ria, S. Fil., Gr. (Guru SDK Wairpelit)
Gereja Katolik mengakui Maria sebagai Bunda Allah, perempuan yang dipilih untuk mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Kerendahan hati, ketaatan, dan kesetiaannya kepada Allah menjadikan Maria teladan bagi umat beriman. Keutamaan hidupnya menjadi dasar penghormatan Gereja sekaligus inspirasi untuk menghayati nilai-nilai iman.
Salah satu bentuk penghormatan kepada Maria ialah devosi. Gereja menetapkan Oktober sebagai Bulan Rosario, ketika umat menghormati Bunda Maria melalui Doa Rosario dan ziarah. Rosario berasal dari bahasa Latin rosarium, yang berarti taman mawar. Istilah ini melambangkan rangkaian doa Salam Maria, sebagai mawar yang dipersembahkan untuk Maria.
Devosi kepada Maria bukan penyembahan, melainkan penghormatan istimewa (hyperdulia). Melalui Doa Rosario, konsekrasi, ziarah, dan Doa Angelus, umat diajak meneladani iman, kerendahan hati, ketaatan, dan kesetiaan Maria agar dekat dengan Yesus Kristus. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar memahami spiritualitas Maria dan relevansinya bagi kehidupan sehari-hari, khususnya dunia pendidikan.
Spiritualitas Maria dalam kehidupan Gereja
Maria mendapat tempat istimewa dalam Gereja Katolik sebagai Bunda Allah dan Bunda Yesus Kristus. Pengakuan ini berakar pada Kitab Suci dan ditegaskan dalam Syahadat Para Rasul: Yesus Kristus “dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”. Ajaran tentang Maria diperdalam dalam dokumen Lumen Gentium, ensiklik para Paus, dan Katekismus Gereja Katolik.
Keistimewaan Maria tidak hanya terletak pada perannya sebagai ibu Yesus, tetapi juga pada keteladanan hidupnya. Ia menunjukkan kerendahan hati, ketaatan, dan cinta kasih dalam menanggapi kehendak Allah. Spiritualitasnya berakar pada relasi mendalam dengan Allah dan diwujudkan dalam kehidupan. Ketika menerima kabar Malaikat Gabriel, Maria menyambut panggilan itu dengan iman dan tanggung jawab. Ia menyerahkan diri untuk mengambil bagian dalam rencana keselamatan Allah.
Spiritualitas Maria juga tampak dalam kepeduliannya terhadap sesama. Ketika mengunjungi Elisabet, Maria hadir membawa sukacita. Peristiwa ini menunjukkan bahwa iman mendorong seseorang untuk melayani. Karena itu, penghormatan kepada Maria tidak cukup diwujudkan melalui devosi, tetapi perlu disertai usaha menghidupi nilai-nilai yang diteladankannya: dekat dengan Allah, mengasihi sesama, dan setia menjalankan tanggung jawab.
Kedalaman iman Maria terlihat dalam ketekunannya merenungkan peristiwa kehidupan. Injil Lukas (2:19) menggambarkan Maria sebagai pribadi kontemplatif yang menyimpan dan merenungkan segala perkara dalam hatinya. Ia tidak selalu memahami seluruh pengalaman yang dihadapi, tetapi tetap terbuka terhadap kehendak Allah. Sikap ini mengajarkan pentingnya doa, refleksi, dan keteguhan iman ketika menghadapi ketidakpastian.
Kesetiaan Maria semakin nyata ketika mendampingi Yesus hingga di bawah kaki salib. Ia menyaksikan penderitaan dan pengorbanan Putranya demi keselamatan umat manusia. Dalam dukacita, Maria tetap menunjukkan keteguhan iman dan kepasrahan kepada Allah. Teladannya menegaskan bahwa spiritualitas tidak hanya diwujudkan melalui doa, tetapi juga melalui kesetiaan, ketabahan, dan cinta kasih dalam menghadapi penderitaan.
Cinta kasih merupakan inti spiritualitas Maria. Kesediaannya menerima panggilan Allah dan kepeduliannya terhadap Elisabet memperlihatkan bahwa iman harus diwujudkan melalui kehadiran dan pelayanan. Gereja mengajak umat meneladani kerendahan hati serta ketaatan Maria dengan mengandalkan bimbingan Allah. Iman yang hidup menjadi kekuatan untuk menjalankan tugas dan pelayanan dalam keluarga, masyarakat, maupun Gereja, serta menghadapi tantangan zaman.

Maria menjadi pendidik bagi Kristus
Kehidupan Maria memberi inspirasi untuk memahami makna pendidikan. Ia bukan hanya ibu Yesus, tetapi juga pendidik pertama yang mendampingi pertumbuhan-Nya. Perannya mencakup pemenuhan kebutuhan jasmani, pembentukan iman, penanaman nilai kehidupan, serta pengenalan agama dan budaya. Melalui kesederhanaan dan keteladanan iman, Maria turut membangun dasar pertumbuhan Yesus. Pendidikan, dengan demikian, tidak hanya menyangkut kebutuhan fisik dan penyampaian pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, iman, dan kebijaksanaan.
Peran Maria sebagai pendidik tercermin dalam pertumbuhan Yesus. Injil Lukas (2:52) menyatakan bahwa “Yesus semakin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya”, serta semakin dikasihi Allah dan manusia. Pertumbuhan ini meliputi aspek fisik, intelektual, spiritual, dan sosial. Pendidikan merupakan proses pendampingan yang utuh untuk membentuk pribadi matang dalam pengetahuan, iman, dan kehidupan.
Kehadiran Maria sebagai pendidik berlanjut dalam perjalanan iman para murid setelah Yesus wafat dan bangkit. Kisah Para Rasul (1:14) menggambarkan Maria bersama para murid yang bertekun dalam doa. Kehadirannya menunjukkan keteguhan iman dan kesetiaan dalam menguatkan mereka yang menghadapi ketidakpastian. Maria mendidik bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui doa, kehadiran, dan keteladanan hidup.
Panggilan sebagai guru serta tantangannya dalam perkembangan AI
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan. Untuk menjawabnya, guru perlu menguasai empat kompetensi.
Pertama, kompetensi pedagogik, berkaitan dengan kemampuan mengelola pembelajaran sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, kompetensi kepribadian, menuntut guru menjadi teladan dan mengayomi peserta didik. Ketiga, kompetensi sosial diperlukan untuk membangun komunikasi santun dengan sesama guru, orang tua, dan peserta didik. Keempat, kompetensi professional, menuntut penguasaan materi dan konsep keilmuan secara luas dan mendalam.
Dalam konteks Maria sebagai pendidik bagi Kristus, guru diajak menghidupi keteladanannya melalui keempat kompetensi tersebut. Mendidik bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, melainkan mendampingi pertumbuhan peserta didik dengan tulus dan sabar. Guru perlu memadukan pengetahuan, kepribadian, kepedulian, dan tanggung jawab dalam menjalankan panggilannya.
Tantangan pendidikan semakin berkembang dengan hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurut pemberitaan CNBC Indonesia, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, dalam Top Women Fest pada 25 September 2026, menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat pertama dalam pemanfaatan AI, khususnya untuk pendidikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dunia pendidikan dan menuntut kesiapan guru.
Guru perlu terbuka terhadap perkembangan teknologi dan membekali diri agar mampu membimbing peserta didik memanfaatkan AI secara bijaksana. Teknologi ini bukan semata-mata ancaman, tetapi juga peluang mengembangkan pembelajaran. Namun, ketergantungan berlebihan pada AI berisiko melemahkan kemampuan berpikir kritis. Peserta didik dapat terbiasa menerima jawaban instan tanpa berpikir dan menganalisis secara mandiri. Padahal, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk pribadi kritis, mandiri, dan bertanggung jawab.
Guru perlu mendampingi peserta didik dengan sabar dan penuh tanggung jawab. Keteladanan ini dapat dilihat ketika Maria mencari Yesus yang tertinggal di Yerusalem pada usia dua belas tahun. Dalam Injil Lukas (2:48), Maria mengungkapkan kecemasannya: “Bapa-Mu dan Aku dengan cemas mencari Engkau.” Peristiwa ini menunjukkan perhatian dan tanggung jawab Maria terhadap Yesus. Demikian pula, guru perlu memperhatikan dan bertanggung jawab atas perkembangan para murid.
Maria juga setia mendampingi Yesus hingga di bawah kaki salib. Dalam Injil Yohanes (19:26), Yesus berkata kepadanya, “Ibu, inilah anakmu!” Kehadiran Maria saat Yesus menderita memperlihatkan kesetiaan yang tidak surut dalam keadaan sulit. Teladan ini mengingatkan bahwa panggilan guru menuntut komitmen, kepedulian, dan tanggung jawab untuk mendampingi peserta didik dalam proses pertumbuhan.

Maria mengajarkan ketaatan dan kehati-hatian dalam menggunakan kebebasan serta kemampuan intelektual. Kecerdasan perlu diarahkan agar digunakan secara bijaksana dan bertanggung jawab. Dalam pemanfaatan AI, guru perlu mengawasi penggunaan dan menetapkan batasan agar teknologi tidak disalahgunakan. Di sisi lain, AI dapat membantu pekerjaan administratif guru, memperluas akses sumber informasi, serta menyajikan gambaran konkret untuk mempermudah pemahaman materi. Jika digunakan secara tepat, teknologi menjadi sarana pendukung, bukan pengganti peran guru.
Kehadiran AI dalam pendidikan, ibarat gelombang besar yang menyebar cepat. Kesiapan menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih menjadi tantangan karena ketidaksiapan dapat memicu kecanduan dan ketergantungan. Guru perlu menjadi penyaring informasi dengan memeriksa kebenaran dan kelayakan data yang diperoleh melalui AI. Dengan demikian, informasi pembelajaran tetap akurat, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Maria menghayati panggilan hidup melalui iman, kesetiaan, dan cinta kasih. Teladannya menegaskan bahwa guru berperan menghantarkan peserta didik menuju kebijaksanaan dan kesiapan menghadapi perubahan zaman. Guru perlu percaya diri, terbuka terhadap teknologi, dan tidak dikuasai kecemasan. Dengan keteguhan hati, kesetiaan pada panggilan, serta cinta kasih kepada peserta didik, guru dapat menjaga martabat profesinya dan mempersiapkan generasi berpengetahuan, beriman, berkarakter, serta bijaksana.

