Komitmen Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT) untuk meningkatkan mutu pendidikan pada satuan-satuan pendidikan di bawah naungannya terus diwujudkan melalui penguatan kompetensi para kepala sekolah. Setelah menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah Tingkat SD SANPUKAT di wilayah barat dan tengah, kali ini kegiatan serupa menyasar para kepala sekolah di wilayah timur.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu (30–31 Oktober 2026), ini dipusatkan di SDK Geliting dengan menghadirkan E. Nong Yonson, praktisi sekaligus pemerhati pendidikan Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai pemateri.
Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian program pengembangan kapasitas kepemimpinan kepala sekolah yang dilaksanakan secara bertahap di tiga wilayah. Sebelumnya, kegiatan serupa berlangsung di wilayah barat pada 26–27 Oktober 2026 dan wilayah tengah pada 28–29 Oktober 2026.

Transformasi pola pendidikan
Dalam pemaparannya, Nong Yonson mengajak para kepala sekolah untuk merefleksikan kembali pola-pola pendidikan yang selama ini diterapkan di sekolah. Menurutnya, perubahan zaman dan karakteristik peserta didik menuntut para pendidik untuk meninggalkan pendekatan-pendekatan lama yang cenderung membatasi ruang kreativitas dan perkembangan potensi anak.
Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada penyampaian materi dan pencapaian hasil akademis, tetapi harus memberikan ruang bagi peserta didik untuk berpikir kritis, bereksplorasi, berkreasi, serta mengembangkan kemampuan sesuai dengan potensi masing-masing.
“Pola-pola pendidikan lama yang selama ini kita terapkan perlu dievaluasi kembali. Jangan sampai pendekatan yang kita gunakan justru mematikan kreativitas anak-anak. Anak-anak sekarang memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, guru dan kepala sekolah harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” tegas Nong Yonson.
Perhatian pada TKA
Selain transformasi pola pendidikan, perhatian khusus dalam pelatihan ini juga diarahkan pada pemahaman kepala sekolah dan guru terhadap pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Nong Yonson menekankan bahwa kepala sekolah dan guru harus terlebih dahulu memahami karakteristik, bentuk, serta mekanisme pengerjaan soal TKA sebelum mendampingi peserta didik dalam menghadapi ujian tersebut.
Hal ini menjadi penting karena berdasarkan simulasi TKA, ditemukan sejumlah bentuk soal yang ternyata belum sepenuhnya dipahami oleh para kepala sekolah dan guru. Kondisi tersebut menjadi bahan refleksi bahwa kesiapan menghadapi asesmen tidak hanya menjadi tanggung jawab peserta didik, tetapi juga membutuhkan kesiapan para pendidik.
“Bagaimana kita mengharapkan anak-anak mampu mengerjakan soal TKA dengan baik kalau kepala sekolah dan gurunya sendiri belum memahami bentuk-bentuk soal yang diberikan? Karena itu, kepala sekolah dan guru harus terlebih dahulu belajar dan memahami jenis-jenis soal TKA. Dengan demikian, ketika mendampingi anak-anak, kita dapat memberikan penjelasan secara tepat dan maksimal,” ungkapnya.

Menurut Nong Yonson, pemahaman terhadap TKA harus menjadi bagian dari persiapan bersama di lingkungan sekolah. Kepala sekolah perlu memastikan para guru memiliki pengetahuan dan kesiapan yang memadai sehingga proses pembelajaran dan pendampingan peserta didik dapat berjalan lebih terarah.
Ketua SANPUKAT, RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th. (RD. Okto), dalam keterangannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme para kepala sekolah dan guru di wilayah timur yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Baginya, semangat untuk belajar, berdiskusi, dan memperkaya wawasan merupakan modal penting dalam upaya membangun sekolah yang semakin berkualitas.
“Saya melihat ada antusiasme yang baik dari para kepala sekolah dan guru di wilayah timur dalam mengikuti kegiatan ini. Ini menunjukkan bahwa ada kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap hal-hal baru, dan memperbaiki diri. Kita tidak boleh merasa bahwa apa yang selama ini kita lakukan sudah cukup. Dunia pendidikan terus berkembang, sehingga kita pun harus terus berkembang,” ungkap RD. Okto.
Ia menambahkan bahwa kepala sekolah memiliki peran strategis dalam menentukan arah perkembangan satuan pendidikan. Karena itu, peningkatan kompetensi tidak boleh berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi harus diterjemahkan ke dalam kebijakan, program, dan tindakan nyata di lingkungan sekolah masing-masing.
Pelatihan di wilayah timur ini secara khusus diikuti oleh para kepala sekolah dari 47 satuan pendidikan, yakni SDK Natakoli, SDK Gedo, SDK Natawatu, SDK Wologahar, SDK Krado, SDK Bola, SDK Nitung Kangae, SDK Botang, SDK Nangahaledoi, SDK Higetegera, SDK Wailamung, SDK Kopor, SDK Waiara, SDK Nataleba, SDK Hale, SDK Bei, SDK Kubit, SDK Nara, SDK Kewapante, SDK Watukobu, SDK Watubala, SDK Geliting, SDK Ili, SDK Watubaler, SDK Apinggoot, SDK Wololuma, SDK Tanjung Darat, SDK Kebot, SDK Lere, SDK Tanahikong, SDK Warut, SDK Kloangaur, SDK Ewa, SDK Waigete, SDK Likot, SDK Boganatar, SDK Hikong, SDK Watutena, SDK Ojang, SDK Kajowain, SDK Bokang, SDK Talibura, SDK Kopong, SDK Kloangpopot, SDK Doreng, SDK Hokor, dan SDK Kloangrotat.
Ketua SANPUKAT beri apresiasi
Dengan berakhirnya kegiatan di wilayah timur, rangkaian Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah Tingkat SD SANPUKAT yang dilaksanakan di tiga wilayah, yakni barat, tengah, dan timur, telah terlaksana. RD. Okto menyampaikan terima kasih kepada seluruh kepala sekolah yang telah mengambil bagian, serta secara khusus kepada E. Nong Yonson yang telah membagikan pengetahuan, pengalaman, dan perspektifnya mengenai perkembangan dunia pendidikan.

“Terima kasih kepada seluruh kepala sekolah yang telah mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusiasme, dan secara khusus kepada Bapak Nong Yonson yang telah mendampingi serta membagikan banyak hal penting bagi kita semua.
Saya berharap semua hal positif yang diperoleh selama proses pelatihan ini tidak berhenti sebagai pengetahuan yang kita dengar di ruang kegiatan. Refleksikan, renungkan, dan ejawantahkan dalam program-program serta aksi nyata yang mendukung perkembangan sekolah ke arah yang lebih positif ke depannya,” terang RD. Okto.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan sebuah proses berkelanjutan yang membutuhkan keterlibatan dan komitmen seluruh elemen sekolah. Kepala sekolah tidak hanya dituntut menjalankan fungsi administratif dan manajerial, tetapi juga harus mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang menggerakkan guru, membangun budaya sekolah yang positif, serta memastikan setiap peserta didik memperoleh ruang untuk bertumbuh dan berkembang.
Melalui rangkaian pelatihan ini, SANPUKAT berharap para kepala sekolah semakin siap menghadapi tantangan pendidikan yang terus berubah. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan menjadi bekal untuk membangun pola kepemimpinan dan praktik pendidikan yang lebih relevan, kreatif, serta berpihak pada perkembangan peserta didik. (Wue Admin)

