Setiap generasi selalu menyimpan daya tarik tersendiri. Dan sejarah selalu menghadirkan mereka yang masih muda, tetapi memikul keberanian yang jauh melampaui usianya. Mereka belum lama hadir, namun telah bekerja seperti mereka yang sudah puluhan tahun ditempa pengalaman. Barangkali, usia rupanya tidak pernah menjadi ukuran kedewasaan dalam mengemban sebuah tanggung jawab.
Misalnya, pada gelaran Piala Dunia 2026 yang meninggalkan satu nama yang terus diperbincangkan: Pau Cubarsí. Bek berusia 19 tahun itu tampil bak tembok kokoh di lini pertahanan Spanyol dan menjadi salah satu aktor penting di balik keberhasilan La Furia Roja meraih gelar juara dunia untuk kedua kalinya. Penampilannya yang matang membuatnya dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026—sebuah pengakuan bahwa semangat seorang veteran dapat hidup dalam diri seorang pemuda.
Spirit serupa kini tumbuh di ujung timur Kabupaten Sikka.
SMAK St. Antonius Boganatar, salah satu sekolah termuda milik Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT), baru berusia tiga tahun. Bahkan, sekolah ini belum menghasilkan seorang alumni pun. Namun usia yang masih belia tidak pernah menghalangi langkahnya untuk mengemban amanat konstitusi: mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pelayanan pendidikan yang berkualitas.
Layaknya seorang anak yang baru belajar berdiri, perjalanan awal SMAK St. Antonius Boganatar tidaklah mudah. Aktivitas belajar mengajar masih memanfaatkan bangunan lama SMPK St. Antonius Boganatar. Sarana dan prasarana pendidikan masih sangat terbatas. Perlengkapan pembelajaran pun jauh dari kata ideal.
Di tengah segala keterbatasan itu, Niko Pedor, S. Pd., Kepala SMPK St. Antonius Boganatar sekaligus inisiator berdirinya SMAK tersebut, bersama para pejuang pendidikan lainnya tetap memegang keyakinan yang sama: pekerjaan yang berat hari ini akan menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih baik.
Keyakinan itulah yang kemudian diteruskan oleh Laurensius Leong Liwu, S. Pd., putra daerah kelahiran 26 November 1997 yang kini dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMAK St. Antonius Boganatar.
Sebagai anak asli Boganatar, Laurensius memahami betul denyut kehidupan masyarakat di tanah kelahirannya. Kepekaan terhadap kebutuhan pendidikan, kecintaan yang mendalam kepada kampung halaman, serta semangat pengabdian untuk menumbuhkan generasi masa depan membuatnya memilih tetap tinggal dan mengabdikan diri membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.
Keputusan itu lahir dari keprihatinannya melihat banyak anak di Boganatar harus menempuh perjalanan yang jauh untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Selain harus mengeluarkan biaya pendidikan yang lebih besar, para orang tua juga dibebani kebutuhan transportasi dan akomodasi yang tidak sedikit.
Situasi itulah yang semakin memantapkan langkah Laurensius ketika diminta untuk memimpin sekolah yang masih sangat muda ini.

Pada dua tahun ajaran pertama, jumlah peserta didik masih sangat minim. Demikian pula jumlah tenaga pendidik yang hanya terdiri atas tiga orang guru. Kondisi tersebut sempat memunculkan berbagai keraguan. Tidak sedikit yang mempertanyakan masa depan sekolah ini.
Namun keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti melayani. Tatapan sinis, komentar skeptis, hingga keraguan dari berbagai pihak justru menjadi bahan bakar untuk terus membuktikan bahwa setiap karya besar selalu lahir dari perjuangan yang sederhana, tetapi dengan semangat yang kaya.
Menghadapi kenyataan itu, Laurensius bersama para guru memilih bergerak, bukan mengeluh. Layaknya Spanyol yang tampil agresif dengan pressing tinggi sepanjang Piala Dunia, SMAK St. Antonius Boganatar menerapkan strategi pelayanan yang dilakukan secara konsisten, terukur, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Bersama Pastor Paroki, para orang tua, tokoh masyarakat, dan Panitia Pengembangan SMAK St. Antonius Boganatar, berbagai program dilaksanakan secara rutin. Sosialisasi dilakukan dengan turun langsung ke tengah umat. Ibadat dan sharing Kitab Suci digelar di berbagai stasi sebagai ruang membangun kedekatan dengan masyarakat.
Dukungan paroki pun menjadi energi penting dalam perjalanan sekolah ini. Pater Aris, SVD dan Pater Tony, SVD yang bertugas di paroki tersebut, secara rutin hadir memberikan pembinaan rohani sekaligus pelatihan memimpin ibadat kepada para siswa. Di sisi lain, para guru terus bergerak melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah maupun stasi-stasi untuk memperkenalkan SMAK St. Antonius Boganatar kepada masyarakat.
Kesetiaan dalam melayani perlahan membuahkan hasil. Pada tahun ajaran baru ini (2026/2027), SMAK St. Antonius Boganatar berhasil menerima 25 peserta didik baru sekaligus menambah 10 tenaga guru. Sebuah capaian yang menjadi tanda bahwa ketulusan pelayanan selalu menemukan jalannya sendiri untuk bertumbuh.
Meski demikian, perjalanan sekolah ini masih panjang. Sebagai pemimpin muda yang baru mengemban tanggung jawab, Laurensius menyadari bahwa SMAK St. Antonius Boganatar masih membutuhkan dukungan dari banyak pihak, termasuk SANPUKAT. Berbagai fasilitas penunjang pembelajaran, khususnya ketersediaan buku-buku pelajaran, masih menjadi kebutuhan yang perlu dipenuhi agar proses pendidikan semakin berkualitas.
Namun sejarah pendidikan tidak pernah dibangun oleh mereka yang menunggu segala sesuatu menjadi sempurna. Ia dibangun oleh orang-orang yang berani memulai, bekerja dengan tekun, dan tetap setia melayani meski hasilnya belum langsung terlihat.
SMAK St. Antonius Boganatar mungkin masih merupakan sekolah yang sangat muda. Para guru yang mengabdi di dalamnya pun sebagian besar masih berada pada usia produktif. Namun semangat yang mereka tunjukkan telah melampaui usia sekolah itu sendiri.
Sebab, sebagaimana seorang pemain muda yang tampil dengan mental seorang veteran, sekolah baru pun dapat menghadirkan pelayanan yang matang ketika dijalankan oleh orang-orang yang percaya bahwa masa depan tidak dibentuk oleh lamanya berdiri, melainkan oleh kesetiaan untuk terus melayani. (Wue Admin)

