Apa yang membuat seseorang bertahan selama hampir tujuh belas tahun mengajar di sebuah sekolah yang berbeda keyakinan dengan agama yang dianutnya?
Pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam kisah Ibu Ice, seorang guru Muslim yang sejak tahun 2009 mengabdikan diri di SDK Wailamung. Guru kelahiran Kabal, 31 Desember 1986 itu telah menjalani kariernya di sekolah milik Yayasan Persekolahan Umat Katolik (Sanpukat) tersebut. Dalam kurun waktu yang panjang itu, ia tidak hanya menjadi saksi tumbuh kembang ratusan peserta didik, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana toleransi dan keterbukaan hidup dalam keseharian sebuah sekolah Katolik.
Tujuh belas tahun tentu saja bukanlah waktu yang singkat. Banyak guru datang dan pergi, banyak siswa lulus dan melanjutkan perjalanan hidup mereka. Namun, Ibu Ice tetap mengabdi di sana, bukan karena ia tidak punya pilihan lain lagi, tetapi karena ia menemukan sesuatu yang tidak selalu mudah ditemukan di setiap tempat kerja: penerimaan.
Di tengah berbagai perdebatan tentang keberagaman yang sering mengisi ruang publik, pengalaman Ibu Ice justru menghadirkan gambaran sederhana tentang bagaimana toleransi sejati bekerja. Bukan melalui slogan atau kampanye besar, melainkan melalui relasi antarmanusia yang tulus dan penuh penghargaan.
Dan bagi Sanpukat, profesi guru adalah sebuah panggilan universal.
Pendidikan pada dasarnya adalah karya kemanusiaan. Karena itu, yang menjadi perhatian utama bukanlah latar belakang agama seseorang, melainkan kesediaannya untuk mengabdi dan mendidik generasi muda. Siapa pun yang memiliki semangat melayani melalui pendidikan diberi ruang yang sama untuk berkarya.
Prinsip itulah yang juga selama ini dihidupi oleh Sanpukat dalam mengelola sekolah-sekolahnya.
Sanpukat menerima guru bukan karena agamanya, melainkan karena dedikasinya. Entah seorang guru beragama Katolik, Islam, Protestan, Hindu, Buddha, maupun keyakinan lainnya, kesempatan untuk mengabdi tetap terbuka selama ia memiliki komitmen terhadap dunia pendidikan.
Karena itu, kehadiran Ibu Ice di SDK Wailamung tidak pernah dipandang sebagai sesuatu yang berbeda. Ia tidak ditempatkan sebagai “guru Muslim di sekolah Katolik”, melainkan sebagai seorang guru yang bersama rekan-rekannya memiliki tanggung jawab yang sama, yaitu mendidik anak-anak.
Pengalaman tersebut dirasakan sendiri oleh Ibu Ice selama bertahun-tahun.
Ia mengaku tidak pernah merasakan perlakuan yang membedakan dirinya dari guru-guru lain. Sejak pertama kali bergabung hingga sekarang, ia selalu merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar sekolah.
“Selama saya mengajar di sini, saya merasa nyaman karena teman-teman guru memperlakukan saya seperti saudara mereka sendiri. Toleransi mereka bagus, dan itu membuat saya nyaman berada di sini,” demikian pengakuannya.
Kenyamanan itu lahir dari budaya saling menghormati dan toleransi yang tumbuh secara alami di lingkungan sekolah.
Hal ini juga yang membuatnya terus setia mengabdi meskipun setiap hari ia harus menempuh perjalanan yang tidak pendek. Dari rumahnya di Tanadewa menuju SDK Wailamung, ia menempuh jarak belasan kilometer dengan ongkos transportasi sekitar Rp40.000 setiap hari.
Namun perjalanan itu tidak pernah mengurangi semangatnya untuk terlibat aktif dalam kehidupan sekolah.
Selama bertahun-tahun mengabdi, Ibu Ice dikenal sebagai pribadi yang selalu hadir dalam berbagai kegiatan sekolah. Ia tidak hanya menjalankan tugas mengajar di dalam kelas, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas yang mendukung kehidupan komunitas sekolah. Baginya, menjadi bagian dari SDK Wailamung berarti ikut membangun dan merawat kebersamaan yang ada di dalamnya.

Keaktifan itu bahkan terlihat dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan menggereja. Ketika SDK Wailamung mendapat tanggungan untuk membersihkan gereja atau lingkungan paroki, Ibu Ice turut ambil bagian bersama rekan-rekan guru lainnya. Ia tidak memilih untuk menjauh hanya karena perbedaan keyakinan. Sebaliknya, ia tetap hadir sebagai bagian dari komunitas sekolah yang memiliki tanggung jawab bersama.
Baginya, keterlibatan tersebut bukan persoalan agama, melainkan bentuk solidaritas dan kebersamaan. Ia membantu bukan karena harus menjadi sama dengan orang lain, melainkan karena menghormati komunitas tempat ia hidup dan mengabdi.
Sikap yang ditunjukkan Ibu Ice pun mendapat penghargaan yang sama dari rekan-rekannya.
Rekan-rekan guru memahami dengan baik batasan-batasan yang harus dihormati. Mereka mengetahui makanan apa yang tidak dapat dikonsumsi oleh umat Muslim. Mereka menjaga perasaan satu sama lain tanpa perlu diingatkan.
Namun menariknya, Ibu Ice justru sering meminta agar teman-temannya tidak perlu merasa sungkan karena dirinya.
Ketika ada acara kecil-kecilan di sekolah dan para guru berkumpul untuk makan bersama, ia kerap mengatakan bahwa teman-temannya tidak perlu membatasi pilihan makanan hanya karena dirinya hadir.
“Kalau teman-teman mau makan yang lain, silakan saja. Jangan karena ada saya lalu teman-teman harus membatasi diri,” demikian sikap yang selalu ia tunjukkan.
Demikian pun dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika hari raya keagamaan tiba, mereka saling mengunjungi dan saling mengucapkan selamat. Tidak ada kecanggungan yang tercipta karena perbedaan keyakinan.
Kisah Ibu Ice di atas sesungguhnya mencerminkan semangat pendidikan Katolik, khususnya Sanpukat, yang telah lama hidup di wilayah Kabupaten Sikka ini. Sanpukat hadir bukan hanya untuk melayani umat Katolik. Semangat pelayanan tersebut bertumpu pada keyakinan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang baik, dan setiap orang yang terpanggil menjadi guru berhak memperoleh kesempatan untuk mengabdi.
Sanpukat menerjemahkan semangat itu dalam praktik yang nyata.
Melalui kehadiran guru-guru seperti Ibu Ice, peserta didik mendapatkan pelajaran yang mungkin tidak tertulis dalam buku pelajaran. Mereka melihat bagaimana orang-orang dengan latar belakang berbeda dapat bekerja sama, saling menghormati, dan membangun persaudaraan; termasuk belajar bahwa menghargai orang lain tidak berarti kehilangan identitas diri sendiri dan kemanusiaan selalu lebih besar daripada sekat-sekat yang membedakan.
Di tengah berbagai cerita tentang perbedaan yang kadang dipertentangkan, kisah Ibu Ice justru memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Selama hampir 17 tahun, seorang guru Muslim dapat mengabdi dengan penuh kenyamanan di sebuah sekolah Katolik. Ia diterima, dilibatkan, dihargai, dan diberi ruang yang sama untuk berkembang. Sebaliknya, ia juga memberikan dedikasi, loyalitas, dan kontribusi terbaiknya bagi sekolah.
Mungkin inilah makna toleransi yang sesungguhnya: bukan sekadar hidup berdampingan, melainkan berjalan bersama; bukan hanya saling memahami, tetapi juga saling mendukung. Dan selama semangat itu terus dirawat, Sanpukat tidak hanya sedang membangun sekolah-sekolah yang berkualitas, tetapi juga sedang menumbuhkan generasi yang belajar bahwa persaudaraan selalu lebih kuat daripada perbedaan. (Wue Admin)

