Gempa bumi berkekuatan 7,7 Magnitudo yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 lalu masih meninggalkan dampak bagi masyarakat. Dunia pendidikan menjadi salah satu sektor yang turut merasakan dampaknya, khususnya sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT) di Kabupaten Sikka, Keuskupan Maumere.
Selain kerusakan pada sejumlah fasilitas sekolah, gempa susulan yang masih terjadi turut memunculkan rasa khawatir dan meninggalkan trauma psikologis bagi anak-anak peserta didik.
Menanggapi situasi tersebut serta imbauan pemerintah yang memperpanjang masa tanggap darurat hingga awal September, sebagian besar sekolah SANPUKAT untuk sementara melaksanakan kegiatan belajar mengajar di bawah tenda darurat yang didirikan di halaman sekolah masing-masing.
Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan sekaligus memastikan proses pendidikan tetap berjalan. Belajar di ruang terbuka dengan menggunakan tenda darurat diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi peserta didik maupun para guru. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran tetap dapat berlangsung sambil menunggu kondisi sekolah dan situasi lingkungan benar-benar kembali kondusif.

Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT), RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th. (RD. Okto), sebelumnya telah mengunjungi sejumlah sekolah SANPUKAT yang terdampak gempa. Dalam kunjungan tersebut, RD. Okto menemukan bahwa dampak gempa tidak hanya terlihat pada kerusakan fisik bangunan sekolah. Para guru dan peserta didik juga mengalami trauma psikologis yang cukup berat akibat gempa utama maupun gempa-gempa susulan yang masih dirasakan.
Karena itu, menurutnya, keselamatan dan kenyamanan warga sekolah menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pascagempa. Namun, upaya menyediakan tempat belajar yang aman tidak berlangsung tanpa kendala. Ketersediaan tenda darurat menjadi salah satu persoalan yang harus segera dicarikan jalan keluar.
“Awalnya kami mengalami kendala karena stok tenda darurat yang ada di BNPB, dinas-dinas pemerintahan, maupun NGO-NGO sangat terbatas. Tenda-tenda tersebut tentu diprioritaskan untuk para pengungsi, sehingga sekolah-sekolah mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenda darurat, sementara jumlah sekolah yang terdampak, khususnya sekolah SANPUKAT cukup banyak,” jelas RD. Okto.
Kondisi tersebut mendorong SANPUKAT untuk mencari alternatif agar kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan dengan memperhatikan keselamatan peserta didik dan guru. Di tengah keterbatasan tersebut, SANPUKAT kemudian berkoordinasi dengan pihak Keuskupan, para donatur, serta para pemerhati pendidikan SANPUKAT untuk penyediaan terpal yang dapat digunakan sebagai tempat berteduh sementara bagi sekolah-sekolah terdampak.
Terpal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah sebagai pelindung sementara sehingga kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan di halaman sekolah.

“Karena stok tenda darurat sangat terbatas dan diprioritaskan untuk para pengungsi, kami kemudian berkoordinasi dengan pihak Keuskupan, para donatur, dan pemerhati pendidikan SANPUKAT untuk mencari alternatif. Puji Tuhan, ada orang-orang baik yang dengan tulus memberikan bantuan sehingga SANPUKAT bisa menyediakan terpal untuk mendukung kegiatan belajar mengajar,” terang RD. Okto.
Bantuan tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian berbagai pihak terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak di tengah situasi pascagempa. Hingga tulisan ini diterbitkan, hampir sebagian besar sekolah SANPUKAT yang terdampak masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar di bawah tenda darurat atau terpal di halaman sekolah.
Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa bencana tidak boleh menghentikan semangat anak-anak untuk belajar. Di tengah keterbatasan dan rasa khawatir akibat gempa susulan, para guru tetap berusaha hadir mendampingi peserta didik, sementara anak-anak terus datang ke sekolah untuk belajar bersama.

SANPUKAT menyadari bahwa proses pemulihan pascagempa membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, SANPUKAT tetap membuka kesempatan bagi orang-orang baik, para donatur, lembaga, komunitas, serta siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan untuk membantu sekolah-sekolah SANPUKAT yang terdampak gempa Flores.
Bagi SANPUKAT, membantu sekolah berarti membantu anak-anak untuk kembali menemukan rasa aman, melanjutkan pembelajaran, dan mempertahankan harapan di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih. Sebab, meskipun ruang kelas untuk sementara harus digantikan oleh tenda dan terpal, semangat untuk belajar tidak boleh ikut runtuh bersama guncangan gempa. (Wue Admin)

