Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT) terus memperkuat kompetensi para kepala sekolah sebagai pemimpin satuan pendidikan. Komitmen ini diwujudkan melalui kegiatan Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah Satuan Pendidikan SANPUKAT yang berlangsung selama dua hari, 27–28 Oktober 2026, bertempat di Aula ALMA Wairklau, Maumere.
Kegiatan ini kembali menghadirkan E. Nong Yonson, praktisi pendidikan Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai pemateri. Pelatihan tersebut diikuti para kepala sekolah dasar SANPUKAT di wilayah tengah, setelah sebelumnya kegiatan serupa dilaksanakan di Aula Susteran JDS Kaliwajo bagi para kepala sekolah di wilayah barat.
Peningkatan kompetensi ini menjadi bagian dari upaya SANPUKAT untuk memastikan para kepala sekolah tidak hanya mampu menjalankan tugas-tugas administratif, tetapi juga memiliki kecakapan teknis dan kepemimpinan yang memadai dalam mengarahkan perkembangan sekolah. Kepala sekolah dituntut mampu membaca kebutuhan satuan pendidikan, menetapkan arah pengembangan, membangun lingkungan belajar yang aman, serta menggerakkan seluruh warga sekolah menuju tujuan bersama.

Dalam salah satu materinya, E. Nong Yonson menekankan pentingnya visi sebagai fondasi kepemimpinan seorang kepala sekolah. Menurutnya, seorang kepala sekolah harus memiliki gambaran yang jelas tentang kondisi sekolah yang ingin diwujudkan pada masa mendatang.
“Kepala sekolah harus punya visi. Visi adalah arah, tujuan yang mau dicapai oleh sekolah yang kita pimpin. Kalau kita saja tidak punya visi, kita kehilangan arah dan bingung mau bawa sekolah ini ke arah mana,” tegas Nong Yonson ketika meminta para peserta menggambarkan kondisi sekolah yang mereka pimpin dua tahun mendatang.
Pertanyaan tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, di balik pertanyaan tentang wajah sekolah ke depan, terdapat hal mendasar yang perlu dimiliki setiap pemimpin pendidikan: kemampuan menentukan arah dan menerjemahkannya ke dalam langkah-langkah nyata.

Tanpa visi yang jelas, program sekolah berisiko berjalan sekadar mengikuti rutinitas. Kegiatan terlaksana, administrasi terselesaikan, tetapi perubahan yang hendak dicapai tidak selalu memiliki arah yang terukur. Karena itu, visi tidak boleh berhenti sebagai kalimat pajangan. Visi harus menjadi pegangan dalam menetapkan prioritas, mengambil keputusan, menyusun program, dan mengevaluasi perkembangan sekolah.
Bagi seorang kepala sekolah, kepemimpinan bukan hanya tentang memastikan semua pekerjaan berjalan sesuai prosedur. Lebih dari itu, kepemimpinan berarti mengetahui ke mana sekolah hendak dibawa, apa yang perlu dibenahi, serta bagaimana melibatkan guru dan tenaga kependidikan agar tujuan bersama dapat diwujudkan.
Mencegah Kekerasan Sejak Gejala Awal
Selain menyoroti pentingnya visi kepemimpinan, Nong Yonson mengingatkan para kepala sekolah tentang tanggung jawab menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi setiap murid. Menurutnya, pemahaman mengenai berbagai bentuk kekerasan harus menjadi bagian penting dari kompetensi kepala sekolah dan guru.

Ia menegaskan bahwa kekerasan di lingkungan sekolah tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan fisik yang mudah dikenali. Kekerasan psikologis, kekerasan verbal, dan kekerasan seksual dapat berawal dari perilaku yang dianggap biasa, dibiarkan berulang, atau bahkan tidak disadari oleh pendidik sendiri.
“Kepala sekolah dan para guru harus tahu dulu konsep soal kekerasan, entah itu kekerasan psikologis, kekerasan verbal, ataupun kekerasan seksual. Terkadang kita tidak sadar telah melanggengkan kekerasan itu terjadi di lingkungan sekolah kita. Bahkan, kita sebagai pendidik pun kadang-kadang tidak menyadari bahwa kita sendirilah yang membiarkan benih-benih kekerasan tersebut muncul,” ungkapnya.
“Contoh praktis yang sering dianggap sepele adalah ketika guru memukul meja dengan keras untuk menyuruh para murid diam, atau guru yang membiarkan anak-anak laki-laki melakukan catcalling terhadap anak-anak perempuan. Jadi, sebagai guru dan kepala sekolah, kita harus melawan semua itu dan mencegahnya sejak awal,” tegasnya.
Menurut Nong Yonson, kebiasaan semacam itu tidak boleh dibiarkan menjadi bagian dari budaya sekolah. Pendidik perlu membangun kesadaran bahwa setiap tindakan dan respons di hadapan murid turut membentuk cara mereka memperlakukan orang lain.

Pesan ini menempatkan kepala sekolah dan guru bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai penjaga martabat dan keamanan para murid sendiri. Ketegasan dalam mendisiplinkan murid harus berjalan bersama penghormatan terhadap hak-hak mereka. Setiap bentuk kekerasan perlu dikenali, dicegah, dan ditangani secara tepat agar sekolah sungguh menjadi ruang yang aman untuk belajar, bertumbuh, dan membangun karakter.
Memperkuat Kepemimpinan, Meneguhkan Komitmen Pendidikan
Ketua SANPUKAT, RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th. (RD. Okto), mengapresiasi semangat para kepala sekolah yang mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi tersebut. Partisipasi para peserta menunjukkan kesediaan untuk terus belajar dan memperkuat kapasitas diri di tengah tuntutan pengelolaan sekolah yang semakin kompleks.
“Melalui kegiatan ini, SANPUKAT terus mendorong para kepala sekolah agar mampu menjalankan kepemimpinan yang terarah, responsif terhadap kebutuhan murid, serta berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. Kompetensi kepemimpinan, perencanaan berbasis visi, dan kemampuan mencegah kekerasan menjadi bagian penting dari tanggung jawab tersebut,” terang RD. Okto.
Pelatihan ini diikuti kepala sekolah dari 39 satuan pendidikan, yakni SDK Lela I, SDK Lela II, SDK Du, SDK Sikka, SDK Wukur, SDK Napungliti, SDK Nanga, SDK Magepanda, SDK Woloone, SDK Uwa 2, SDK Edo, SDK Cawalo, SDK Nitung Palue, SDK Lei, SDK Tomu Palue, SDK Awa, SDK Detung, SDK Delang, SDK Baluele, SDK Halat, SDK Koting I, SDK Tomu Koting, SDK Diller, SDK Wairpelit, SDK Nita 1, SDK Nita 2, SDK Nataweru, SDK Bloro, SDK Riit, SDK Gusung Karang, SDK Brai, SDK Maumere 1, SDK Maumere 2, SDK Maumere 3, SDK Maumere 4, SDK Nangalimang, SDK Wolomude, SDK Wetakara, dan SDK Habi. (Wue Admin)

