Teras: Guru dan tenaga kependidikan sebagai perziarahan
Pagi itu, Jumat, 23 Oktober 2026, Gua Maria Rosa Mistika Nangalimang begitu ramai. Dari berbagai penjuru mata angin, para guru dan tenaga kependidikan Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT) memadati kaki bukit, mengelilingi Sang Bunda Yesus dengan khidmat.
Panas tidak menjadi halangan, dan terik tidak menyurutkan semangat. Berada di dekat Maria seakan memberi kesejukan iman yang jauh lebih meneduhkan. Para guru dan tenaga kependidikan dengan iman yang teguh berkumpul di bawah kaki Maria dalam semangat kebersamaan, sebuah manifestasi konkrit dari lirik lagu pembukaan pada perayaan Ekaristi pagi itu: Kami datang padamu Maria, kala hidup jadi ziarah…
Anak-anak Maria yang berkumpul di bawah kakinya itu datang membawa perjalanan hidup dan panggilan mereka sebagai pendidik ke hadapan Bunda Maria. Sebab, menjadi guru sesungguhnya adalah sebuah peziarahan. Ada tujuan yang hendak dicapai, ada jalan yang harus ditempuh, tantangan, kelelahan, kekecewaan, bahkan saat-saat ketika seorang pendidik perlu kembali bertanya tentang arti pengabdian yang sedang dijalaninya.
Dalam perjalanan semacam itu, Maria hadir sebagai sahabat, penolong, dan teladan. Ia tidak menjanjikan bahwa setiap jalan akan bebas dari kerikil dan duri. Namun, melalui hidupnya, Maria menunjukkan bagaimana seseorang dapat tetap setia, meski jalan yang dilalui tidak selalu mudah.

“Dalam dikau kami berharap, bangsa kami sentosa selalu….” Di tengah kehidupan bangsa yang tengah ombang-ambing oleh berbagai persoalan, bait lagu itu menemukan maknanya yang semakin dalam. Bagi para guru dan tenaga kependidikan, harapan akan kesentosaan tidak dapat dipisahkan dari pergulatan yang mereka hadapi dalam menjalankan panggilan pendidikan.
Persoalan kesejahteraan dan belum meratanya penghargaan terhadap pengabdian mereka masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terjawab. Di saat tuntutan terhadap mutu pendidikan terus meningkat, perhatian terhadap kehidupan mereka yang berada di garis depan pendidikan justru terpinggirkan
Dalam situasi tersebut, Maria hadir mendengarkan segala pergulatan, kegelisahan, dan kerinduan para guru dan tenaga kependidikan akan hidup yang lebih baik dan adil. Di bawah naungan imannya, mereka menemukan kekuatan untuk tetap setia dalam pengabdian, memperjuangkan hak dengan cara yang baik, dan terus mendorong agar negara semakin sungguh menghadirkan kesejahteraan bagi para pendidik.
Sebab, kesentosaan bangsa tidak mungkin dibangun dengan mengabaikan mereka yang setiap hari ikut membentuk masa depan sebuah bangsa.
RD. Tasman Ware: Guru tidak saja mentransfer ilmu, tetapi juga iman
Pertanyaan tentang panggilan seorang guru menjadi salah satu pokok refleksi RD. Tasman Ware dalam homilinya. Ia mengajak para pendidik melihat kembali tugas mereka di tengah kehidupan anak-anak yang semakin akrab dengan teknologi digital, di mana anak-anak mudah mengakses informasi di internet dalam hitungan detik, dan kurang akrab dengan buku bacaan.
Lantas, jika informasi dan ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan mudah, “apa yang sesungguhnya menjadi tugas seorang guru?”
“Kalau guru hanya sekadar mentransfer ilmu, maka tidak ada bedanya dengan Google!” tegas RD. Tasman.
Pernyataan itu bukan hendak mengerdilkan arti pengetahuan, melainkan mengingatkan bahwa pendidikan jauh lebih luas daripada proses memindahkan informasi dari buku ke dalam pikiran peserta didik. Seorang guru mendampingi peserta didik untuk belajar membedakan yang benar dan yang salah, memahami akibat dari setiap pilihan, menghormati sesama, serta bertanggung jawab atas pengetahuan yang dimiliki. Ia membentuk peserta didik melalui pendampingan, pengalaman, keteladanan, dan relasi manusiawi.
Bagi seorang guru Katolik, tanggung jawab tersebut memiliki dimensi yang lebih mendalam. Mendidik bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan juga mewariskan iman dan nilai-nilai Kristiani melalui kehidupan sehari-hari. Peserta didik tidak cukup hanya mendengar penjelasan tentang kasih, kejujuran, pengampunan, dan solidaritas. Mereka perlu menyaksikan bagaimana nilai-nilai itu dihidupi oleh para guru dan tenaga kependidikan yang mendampingi mereka.

Di sinilah seorang guru dipanggil menjadi teladan rohani: bukan karena ia selalu sempurna, melainkan karena ia terus berusaha menyelaraskan perkataan, keputusan, dan tindakannya dengan iman yang diakuinya.
Dalam konteks itulah Maria menjadi model bagi para pendidik. Ia adalah seorang ibu yang mendampingi pertumbuhan Yesus, dan menghadirkan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan iman dan ketaatan pada Allah. Maria mendidik Yesus bukan semata-mata diarahkan pada kemuliaan duniawi, tetapi pada kesetiaan terhadap kehendak Allah dan perutusan keselamatan.
“Maria tidak mendidik Yesus untuk menjadi juara dunia, tetapi untuk menjadi Juruselamat dunia yang dekat dengan Allah. Inilah yang harus kita pelajari dari Maria: mendidik anak-anak agar tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga bertumbuh dalam iman, mengenal Allah, dan hidup dalam nilai-nilai kebaikan,” tegas RD. Tasman
Karena itu, tugas mendidik membutuhkan persatuan dalam Roh dan iman akan Kristus, sebagaimana jemaat di Efesus dalam bacaan pertama perayaan tersebut (Ef. 4:1-6). Di tengah beragam latar belakang, karakter, dan tanggung jawab, para guru dan tenaga kependidikan dipanggil untuk menjaga kesatuan itu.
Maria, yang senantiasa mengarahkan hidupnya kepada Allah, menjadi teladan bagaimana iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi diwujudkan dalam kesetiaan dan kehidupan bersama.
RD. Okto: Guru dan Tenaga Kependidikan SANPUKAT harus menjaga persatuan
Pin tentang persatuan itu kembali ditegaskan Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT), RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th. (RD. Okto), dalam sambutannya. Bagi sebuah lembaga pendidikan yang melayani banyak sekolah dengan kondisi dan tantangan yang berbeda, persatuan bukan sekadar kata yang indah. Persatuan adalah kekuatan yang memungkinkan setiap orang tetap berjalan bersama, sekalipun tidak selalu memiliki pandangan atau pengalaman yang sama.
Memang diakui, bahwa perjalanan pendidikan tidak pernah sepenuhnya bebas dari persoalan. Ada perbedaan pendapat, kesalahpahaman, kebutuhan yang belum terpenuhi, dan keputusan yang mungkin tidak selalu menyenangkan semua pihak. Namun, persoalan-persoalan itu tidak harus berakhir dengan saling menjauh atau membentuk kelompok-kelompok yang memperlebar jarak.

“Kita sebagai guru dan tenaga pendidikan SANPUKAT, harus bersatu. Kita harus kompak, demi pendidikan anak-anak kita. Jangan sampai ada selisih paham sedikit, kita langsung buat grup WA baru,” ujar RD. Okto dengan nada kelakar.
RD. Okto mengajak para guru dan tenaga kependidikan SANPUKAT untuk menghadapi persoalan dengan rendah hati dan hati yang terbuka terhadap dialog. Perbedaan perlu dibicarakan, bukan dijadikan alasan untuk mengotak-ngotakkan sesama. Setiap orang perlu bersedia mendengarkan, mengakui keterbatasan diri, dan mencari jalan keluar yang mengutamakan kepentingan bersama.
Persatuan bukan berarti meniadakan perbedaan atau mengharuskan semua orang selalu sepakat. Persatuan justru tampak ketika perbedaan tidak merusak rasa hormat, ketika kritik tidak memutus persaudaraan, dan ketika dialog tetap dimungkinkan sekalipun persoalan terasa berat. Sebuah lembaga pendidikan akan sulit membentuk generasi yang mampu hidup dalam persaudaraan apabila orang-orang yang mendidiknya sendiri tidak berusaha menghidupi nilai tersebut.
“Maka, berjalan bersama Maria juga berarti belajar berjalan bersama sesama. Tidak seorang pun menempuh panggilan pendidikan sendirian. Di dalamnya ada rekan kerja yang menopang, ada peserta didik yang dipercayakan, dan ada komunitas pendidikan yang perlu terus dirawat,” terang RD. Okto.
RP. Buyung, O. Carm.: Maria menjadi inspirasi, Yesus menjadi pusat perhatian
Per Mariam, ad Jesum. Bersama Maria, kita menuju Yesus. Ungkapan Latin ini bukan sekadar rumusan refleksi iman Gereja Katolik mengenai peran Maria dalam kehidupan umat beriman. Dalam perjalanan hidupnya sendiri, Maria telah menunjukkan bagaimana perhatian, kasih, dan kesetiaan senantiasa diarahkan kepada Yesus.
Pesan itulah yang dititipkan RP. Buyung, O. Carm., Vikjen Keuskupan Maumere sekaligus Ketua Dewan Pembina SANPUKAT, dalam perayaan tersebut. Maria menjadi inspirasi bukan karena ia menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian, melainkan karena seluruh peristiwa hidupnya menempatkan Yesus sebagai puncak imannya.
Ketika Yesus hilang dan ditemukan kembali di Bait Allah, Maria mencari-Nya dengan penuh kecemasan. Ketika Yesus dipersembahkan kepada Tuhan, ia hadir dalam peristiwa yang menandai perjalanan hidup Putranya. Di Kana, ketika berlangsung pesta perkawinan, Maria memperhatikan kebutuhan orang lain dan mengarahkan perhatian kepada Yesus. Dalam perjalanan sengsara, ia tetap menyertai Putranya hingga kaki salib.

Berbagai peristiwa itu memperlihatkan satu benang merah: Maria tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi senantiasa hadir dalam perjalanan Yesus, dan menjadikan Yesus sebagai pusat perhatian. RP. Buyung mengajak para pendidik membaca keteladanan itu dalam konteks pelayanan pendidikan.
“Bunda Maria menjadi inspirasi bagi kita karena ia selalu menjadikan Yesus sebagai pusat perhatiannya. Ketika Yesus hilang, Maria mencari-Nya. Ketika Yesus menghadapi berbagai peristiwa dalam hidup-Nya, Maria tetap hadir. Ia memperhatikan, mendampingi, dan setia menyertai Yesus. Demikian pula para guru dan tenaga kependidikan: anak-anak harus menjadi pusat perhatian dalam pelayanan pendidikan kita,” kata RP. Buyung.
Pesan tersebut memantik pertanyaan reflektif mendasar: untuk siapa seluruh pekerjaan pendidikan ini dilakukan? Kurikulum, administrasi, pembangunan sarana, peningkatan prestasi, dan berbagai program sekolah tentu memiliki arti penting. Namun, semuanya kehilangan tujuan apabila anak-anak yang seharusnya dilayani justru tersisih dari pusat perhatian.
Menjadikan anak sebagai pusat perhatian menuntut pendidik mengenal kebutuhan anak, mendengarkan pergumulannya, menghargai martabatnya, serta mendampinginya bertumbuh sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang tumbuh dalam keluarga dengan dukungan memadai, ada pula yang datang ke sekolah sambil membawa persoalan yang tidak selalu diketahui gurunya. Pendidikan yang berpusat pada anak menuntut kepekaan untuk melihat mereka bukan sekadar sebagai angka dalam daftar nilai, melainkan sebagai pribadi yang sedang bertumbuh.
Hal ini telah ditunjukkan Maria. Maria tidak mengambil alih perutusan Yesus. Ia mendampingi, memperhatikan, dan tetap setia pada perannya dalam mendampingi Yesus.

“Tugas guru bukan menentukan seluruh jalan hidup seorang anak, melainkan membantu anak mengenali kemampuannya, menumbuhkan imannya, membangun karakternya, dan mempersiapkan dirinya menghadapi kehidupan. Seorang guru yang menjadikan peserta didik sebagai pusat perhatian sepatutnya membantu peserta didik untuk bertumbuh menjadi manusia yang lebih utuh,” ucap RP. Buyung, O. Carm.
Halaman belakang: Kristus sebagai pusat iman, peserta didik sebagai pusat pelayanan
Ziarah para guru dan tenaga kependidikan SANPUKAT berlangsung pada Jumat, 23 Oktober 2026, di Gua Maria Rosa Mistika Nangalimang. Mengusung tema “Bersama Bunda Maria, Wujudkan Pendidikan Katolik Bermutu”, kegiatan ini diikuti para guru dan tenaga kependidikan SANPUKAT, serta peserta dari beberapa sekolah negeri yang turut bergabung.
Perayaan Ekaristi dipimpin RP. Buyung, O. Carm., dengan RD. Tasman Ware sebagai pengkotbah. Ketua SANPUKAT, RD. Okto, dan Pastor Paroki Misir, RD. Datus Du’u, turut hadir sebagai konselebran.

Pada akhirnya, ziarah bukan hanya perjalanan menuju sebuah tempat suci, melainkan perjalanan batin untuk terus memperbarui arah hidup sebagai seorang guru dan tenaga kependidikan. Seorang guru dapat setiap hari memasuki ruang kelas, mengajar, memeriksa pekerjaan peserta didik, dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab administratif.
Namun, di tengah rutinitas itu, ia tetap perlu bertanya: apakah saya masih setia pada panggilan ini? Apakah anak-anak sungguh menjadi pusat perhatian saya? Apakah pengetahuan yang saya ajarkan membantu mereka bertumbuh dalam kebaikan, dan apakah iman yang saya akui terlihat dalam cara saya memperlakukan sesama?
Bersama Maria, para guru dan tenaga pendidikan memaknai bahwa perjalanan iman tidak diukur hanya dari jauhnya langkah, tetapi juga penghayatan akan makna perjalanan dan penggilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang pendidik.
Dan selama Kristus tetap menjadi pusat perhatian, sementara anak-anak tetap menjadi pusat pelayanan, ziarah pendidikan itu akan terus bergerak—menapaki jalan yang tidak selalu mudah, tetapi senantiasa menyimpan harapan.
Kami datang padamu Maria, kala hidup jadi ziarah… (Wue Admin)

