Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT) terus memperkuat tata kelola dan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungannya. Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui penyerahan Surat Keputusan (SK) kepada Maria Marince, S.Pd., yang ditetapkan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDK Natawatu.
SK penugasan tersebut diserahkan secara resmi oleh Ketua SANPUKAT, RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th. (RD. Okto), di Kantor SANPUKAT, Senin, 21 September 2026.
Penugasan ini menjadi bagian dari upaya SANPUKAT memastikan roda kepemimpinan dan pelayanan pendidikan di sekolah tetap berjalan dengan baik. Sebagai Plt Kepala SDK Natawatu, Maria Marince diharapkan dapat menjalankan tanggung jawab kepemimpinan sekaligus memperkuat koordinasi bersama para guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung proses pendidikan di sekolah.
Dalam keterangannya, Marince menuturkan bahwa sekolahnya menghadapi sejumlah kondisi sarana dan prasarana yang masih membutuhkan perhatian. Ia menjelaskan bahwa ketersediaan mebel, khususnya kursi dan meja siswa, masih menjadi salah satu kebutuhan sekolah.
“Untuk mebel, kursi dan meja ada beberapa sudah rusak karena atap yang bocor. Kami juga membutuhkan lemari untuk masing-masing kelas karena lemari yang ada sebagian sudah rusak,” ungkap Marince.
Selain persoalan mebel, kondisi bangunan sekolah juga sempat terdampak gempa Flores yang terjadi pada Agustus 2026. Menurut Marince, kerusakan terutama terlihat pada salah satu ruang kelas dan ruang kepala sekolah.
“Waktu gempa, plafon ruang kelas tiga rusak dan bagian atap juga mengalami kerusakan. Ruang kepala sekolah juga mengalami retak,” tuturnya.
Pasca-gempa, SDK Natawatu sempat melaksanakan kegiatan belajar mengajar di luar ruangan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi bangunan. Namun, setelah situasi dinilai lebih aman, seluruh proses pembelajaran telah kembali berlangsung di dalam ruang kelas.
Di samping kondisi sarana dan bangunan, keterbatasan jaringan komunikasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kelancaran koordinasi, terutama ketika sekolah membutuhkan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.
Ketua SANPUKAT, RD. Okto, dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa penugasan seorang kepala sekolah bukan semata-mata berkaitan dengan posisi administratif, tetapi terutama menyangkut tanggung jawab pelayanan terhadap peserta didik, guru, dan seluruh komunitas sekolah.
Ia juga menuturkan bahwa berbagai keterbatasan yang masih ditemukan di sekolah, termasuk persoalan sarana dan prasarana serta dampak gempa, perlu dihadapi secara bertahap dan bersama-sama. Kepemimpinan di sekolah diharapkan mampu menjadi penggerak dalam membangun semangat dan menjaga agar proses pendidikan tetap berjalan.
“Kalau ada kekurangan, baik mebel maupun fasilitas lainnya, tentu harus kita lihat sebagai bagian dari kebutuhan sekolah yang perlu diperjuangkan. Oleh sebab itu saya arahkan untuk mengajukan proposal ke pihak yayasan agar ditindaklanjuti. Yang paling penting adalah bagaimana sekolah tetap berjalan, guru tetap melayani dengan baik, dan anak-anak tetap belajar dalam suasana yang aman dan mendukung,” terang RD. Okto. (Wue Admin)

