Sulit untuk disangkal, bahwa pembangunan manusia di Flores, khususnya Kabupaten Sikka, tidak terlepas dari peran para misionaris yang datang menyebarkan iman Katolik. Semangat pewartaan tidak melulu dilakukan dengan Kitab Suci, tetapi beriringan dengan spirit untuk membangun kehidupan yang lebih baik, dalam arti bahwa iman pun selalu berjalanan bersama dengan pelayanan kemanusiaan.
Semangat ini pula yang mendorong para misionaris untuk tidak saja mendirikan gereja-gereja, tetapi juga rumah sakit, bengkel misi, dan sekolah-sekolah. Pembangunan fisik bersama para umat saat itu pun gencar dilakukan di mana-mana, bahkan sampai di daerah pelosok sekalipun. Para misionaris seperti memainkan dua peran sekaligus, sebagai pastor yang melayani umat, dan tukang bangunan yang membidani bangunan-bangunan fisik yang hampir sebagian besar bertahan hingga saat ini.
Barangkali, aktivitas dan peran rangkap inilah yang membuat mereka kerap dijuluki sebagai ‘pastor sak semen’!
Semangat itulah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, khususnya dalam bidang pendidikan. Puluhan tahun setelah para misionaris meletakkan fondasi sekolah-sekolah Katolik, estafet pembangunan itu diteruskan oleh para guru. Makna ‘membangun’ kini meluas, bukan saja pada pengembangan fisik gedung sekolah, melainkan membangun karakter, iman, kecerdasan, dan masa depan anak-anak.
Salah satu guru yang turut meneruskan estafet itu adalah Lukas Lewar, S. PD., Kepala SDK Kajowain. Menariknya, sebelum menjadi seorang guru, hidup Lukas justru sangat dekat dengan dunia pertukangan.
Saat berbincang-bincang santai bersama Wue Admin di Kantor SANPUKAT beberapa waktu yang lalu, guru yang murah senyum itu bercerita dengan sangat sederhana. Tidak ada kisah heroik yang ia banggakan. Bahkan berkali-kali ia mengaku bahwa dirinya sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang guru.
“Saya sama sekali tidak membayangkan akan menjadi guru,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Lukas lahir di Werang Detun. Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMA, ia memilih bekerja sebagai tukang bangunan. Saat itu, pilihan tersebut merupakan sesuatu yang sangat wajar. Ia harus bekerja, membantu memenuhi kebutuhan hidup, dan memanfaatkan keterampilan yang dimilikinya.
Hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan fisik. Pagi hingga sore ia bergelut dengan pasir, batu, dan besi. Tangannya lincah mengayunkan ‘sendok’ dan ‘setrika’. Otot-ototnya terbentuk berkat keseringan mengaduk semen. Beberapa proyek yang telah selesai dan bangunan yang berdiri kokoh tidak terlepas dari peran laki-laki tinggi semampai ini.
Tidak ada yang menyangka, bahkan Lukas sendiri pun tak pernah mengira, bahwa suatu hari, di tengah kesibukan memasang keramik, Tuhan sedang menyiapkan jalan lain baginya.
“Waktu itu saya sedang memasang keramik lantai. Tiba-tiba ada seorang bapak guru senior datang menghampiri saya. Guru itu tahu, kalau saya tamatan SMA. Dia datang, lalu bertanya, apakah saya mau mengajar dan menjadi seorang guru. Saya sedikit kaget waktu itu,” kenangnya.
Pertanyaan itu datang begitu saja, tak pernah ia bayangkan. Tidak ada pembicaraan panjang. Bahkan hingga kini Lukas masih bertanya-tanya, mengapa guru itu justru menghampirinya. “Saya sendiri tidak tahu kenapa beliau tiba-tiba menawarkan itu kepada saya,” ujar Lukas.
Namun Lukas memiliki satu prinsip hidup yang terus ia pegang sampai sekarang.
“Prinsip saya, apa pun pekerjaannya, selama itu halal, saya akan kerjakan. Jadi waktu itu saya langsung menjawab, saya bersedia.”
Jawaban singkat itulah yang kemudian mengubah seluruh perjalanan hidupnya. Selesai proyek tersebut, Lukas berganti seragam.
Bagi sebagian orang, berpindah profesi mungkin bukan perkara besar. Namun bagi Lukas, perpindahan itu seperti memasuki dunia yang sama sekali berbeda.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa membangun gedung, tapi kini ia harus membangun manusia. Dulu ia menyusun keramik, tapi sekarang ia menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Dulu ia mengukur kerataan lantai, tapi kini ia harus mengukur keberhasilan pembelajaran. Dulu ia mengaduk campuran, kini ia harus mengolah pengetahuan agar mudah dipahami anak-anak.
Perubahan itu tentu tidak berjalan mulus. Lukas mengakui, masa-masa awal menjadi guru merupakan fase yang cukup berat.
“Awal-awal memang saya agak kesulitan. Sehari-hari saya biasa pegang ‘sendok’ dan aduk campuran. Sekarang saya harus memegang kapur tulis dan buku pelajaran. Tapi saya terus belajar dari teman-teman lain dan tidak menyerah,” ujarnya.
Mental inilah yang membuatnya tidak minder dan terus membentuk dirinya menjadi guru yang baik. Ia sama sekali tidak minder. Alih-alih merasa rendah diri, Lukas justru menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk terus berkembang. Ia belajar banyak dari para guru senior dan rekan-rekan guru yang sudah lebih berpengalaman.
Kerja kerasnya pada masa-masa awal menjadi guru perlahan membuahkan hasil. Di negara yang sangat administratif ini, Lukas tahu bahwa kelengkapan administrasi juga adalah hal penting bagi seorang guru. Dan bagai gayung bersambut, sebuah kesempatan baik datang menghampirinya.
“Saya bersyukur sekali, kerja keras saya mulai mendapatkan hasil yang baik. Empat tahun setelah saya mengajar, saya ditawari kuliah. Seperti jawaban saya waktu pasang keramik dulu, saya tidak menolak,” kata Lukas sembari tertawa. Ia pun melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka (UT).
Di tengah tugas mengajar, ia tetap tekun menjalani proses perkuliahan. Perjalanan itu tentu tidak mudah. Waktu harus dibagi. Tenaga harus dihemat. Pikiran harus difokuskan. Namun semua itu dijalaninya dengan penuh kesungguhan. Baginya, kesempatan belajar adalah anugerah yang tidak boleh dilewatkan.
Perjuangan itu pada akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil menyelesaikan studi dan resmi menjadi seorang guru dengan kualifikasi akademik yang memadai. Sejak saat itu, perjalanan pengabdiannya semakin matang.
Pengalaman sebagai tukang bangunan telah membentuknya menjadi pribadi yang pekerja keras. Pengalaman sebagai guru membentuknya menjadi seorang pendidik, sedangkan pengalaman belajar membentuknya menjadi seorang pembelajar seumur hidup; persis seperti kata Romo Datus, guru Bahasa Latinnya Wue Admin dulu, “Non scholae, sed vitae discimus”. Kita belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk hidup.
Kini, Lukas dipercayakan oleh Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT), RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th. (RD. Okto), untuk memimpin SDK Kajowain. Tanggung jawab itu tidak saja menuntutnya untuk hadir sebagai seorang kepala sekolah saja, tetapi juga seorang pemimpin yang memastikan seluruh proses pendidikan berjalan dengan baik.
Sebagai seorang kepala sekolah, kesibukan Lukas memang telah berubah. Ia tidak lagi menghitung kebutuhan semen, tetapi menjamin agar setiap anak memperoleh haknya untuk belajar. Ia tidak lagi memastikan pasangan keramik lurus, tetapi memastikan arah pendidikan di sekolah tetap berada pada jalur yang benar. Ia tidak lagi membangun ruang kelas dengan batu bata, tetapi kini membangun ruang-ruang harapan di hati anak-anak.
Sesungguhnya, pekerjaannya masih tetap sama. Ia tetap seorang tukang. Bedanya, bahan bangunannya kini bukan semen, pasir, atau batu. Bahan bangunannya sekarang adalah semangat belajar, disiplin, dan mimpi anak-anak. Jika dulu ia seorang tukang bangunan, kini ia adalah “tukang” yang membangun manusia.
“Kalau dulu saya bergerak di pertukangan sak semen, sekarang banting menjadi pertukangan karakter,” ujarnya dengan tawa.
Kisah Lukas Lewar menjadi cermin bahwa panggilan hidup sering kali hadir melalui cara-cara yang tidak pernah kita duga. Suara Tuhan yang memanggil juga dapat berkumandang di tengah-tengah proyek bangunan, di antara tumpukan pasir, campuran, bahkan dari lantai yang sedang dipasangi keramik! Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk menjawab, kesediaan untuk belajar, dan kerendahan hati untuk terus bertumbuh.
Semangat itulah yang dahulu diwariskan para “Pastor Sak Semen”. Mereka membangun sekolah agar lahir generasi yang mampu membangun kehidupan. Hari ini, semangat itu diteruskan oleh para guru seperti Lukas Lewar yang setiap hari mengabdikan dirinya untuk mendidik anak-anak menjadi pribadi yang beriman, cerdas, dan berkarakter.
Sebelum berpamitan, saya yang masih tercengang dengan kisah hidupnya melontarkan sebuah pertanyaan dengan Jenaka.
“Kalau nanti sekolah sementara ada pembangunan, Pa Guru masih bisa bantu tukang tida e?”
“Mungkin habis pulang sekolah, saya bantu mereka campur semen,” jawab Lukas sambil tertawa. (Wue Admin)


Lantai suatu saat bisa retak, bangunanpun pada waktunya akan roboh, tapi nilai dan karakter yang engkau tanamkan tidak akan lekang oleh waktu ia akan bertumbuh subur pada peserta didik yang engkau ajarkan. Proficiat dan terpujilah engkau ibu/bapak guru.