Pernahkah keluarga Sanpukat menyadari bahwa sebagian besar sekolah Sanpukat selalu berada dekat gereja? Atau pernahkah muncul pertanyaan, mengapa sekolah-sekolah Sanpukat hampir selalu berdiri berdampingan dengan gereja atau kapela?
Coba perhatikan sekolah Sanpukat di wilayah Anda!
Ada sekolah yang letaknya hanya sepelemparan batu dari gereja, seperti SDK Koting I, SDK Riit, SDK Maumere II, TK Didi Dodo, SDK Kloangpopot, SDK Lela I, SDK Aebubu, dan masih banyak lagi. Bahkan ada pula sekolah yang berada dalam satu kompleks atau sepekarangan dengan gereja, seperti SDK Wolomude, SDK Halat, SDK Hokor, dan SDK Talibura.
Kedekatan ini tentu bukan sebuah kebetulan, melainkan bagian dari sejarah panjang lahirnya pendidikan Katolik di Kabupaten Sikka.
Untuk memahami hal tersebut, kita perlu kembali melihat jejak para misionaris yang pertama kali datang dan berkarya di Flores. Sejak awal, para misionaris menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang harus mendapat perhatian serius. Pendidikan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari misi Gereja itu sendiri, berjalan beriringan dengan pewartaan iman Katolik.
Para misionaris meyakini bahwa seseorang perlu menggunakan akal budinya untuk memahami ajaran agama secara lebih mendalam. Dalam arti yang sederhana, masyarakat perlu melek huruf terlebih dahulu agar dapat belajar berdoa, membaca Kitab Suci, mengenal ajaran Gereja, dan memahami nilai-nilai moral Kristiani. Karena itulah, di mana Gereja hadir, di situ pula pendidikan mulai dirintis. Gereja menjadi pusat pembinaan iman, sementara sekolah menjadi tempat pembentukan pengetahuan, karakter, dan kemampuan berpikir.

Dari sekolah-sekolah yang didirikan para misionaris inilah lahir generasi awal kaum awam terdidik dan para katekis lokal yang kemudian menjadi rekan seperjalanan para misionaris dalam karya pewartaan. Mereka membantu mengajarkan agama, mendampingi umat, serta memperluas jangkauan pelayanan Gereja hingga ke berbagai pelosok. Tidak jarang seorang guru juga menjadi tokoh penting dalam kehidupan menggereja dan kehidupan sosial masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, sekolah-sekolah yang telah berdiri bahkan sebelum Indonesia merdeka itu tidak hanya menghasilkan guru agama dan katekis. Lembaga pendidikan Katolik juga melahirkan banyak alumni yang mengabdikan diri di berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, pemerintahan, kesehatan, ekonomi, hingga pelayanan sosial. Mereka membawa semangat yang diwariskan sekolah-sekolah Katolik: semangat pelayanan, integritas, kepedulian terhadap sesama, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Karena itulah, hingga hari ini banyak sekolah Sanpukat tetap berada dekat gereja atau kapela. Kedekatan itu bukan semata-mata soal lokasi atau kemudahan akses, melainkan simbol dari sebuah warisan sejarah yang telah hidup lebih dari satu abad. Gereja dan sekolah tumbuh bersama sebagai dua wajah dari satu misi yang sama: membangun manusia yang beriman, berpengetahuan, berkarakter, dan siap mengabdi bagi Gereja, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. (Wue Admin)

