Di tengah riuhnya zaman digital dan modernitas yang merangsek ke segala sisi kehidupan, ada sekelompok anak di SDK Maumere 1 yang memilih berjalan pelan namun pasti dalam menapaki akar budaya, merawat nilai-nilai, dan menumbuhkan karakter. Dalam rentang waktu sepekan, program Child Protection for Children at Elementary School in Muamere/Flores yang diselenggarakan SANPUKAT dan KINDERMISSIONWERK-Jerman dan berada di bawah bimbingan Agnes Ona Roja telah menyulam cerita bermakna yang tak hanya memperkaya pengetahuan anak-anak, tetapi juga menanamkan kebanggaan pada jati diri dan lingkungan mereka.
Menyapa Akar Budaya
Pada hari Rabu, 7 Mei 2025, suasana ruang kelas SDK Maumere 1 berubah menjadi panggung kecil yang menampilkan kekayaan budaya lokal. Agnes, sang fasilitator, membuka kegiatan dengan cerita rakyat “Malin Kundang” sebagai kisah klasik yang langsung menyulut antusiasme anak-anak.
Kemudian, anak-anak dibagi dalam kelompok kecil dan berkeliling sekolah mengikuti “peta misi budaya”. Di titik-titik yang telah ditentukan, mereka menggali informasi dan menciptakan presentasi tentang makanan lokal, pakaian adat, hingga tanaman obat tradisional. Di tengah kegiatan, Riani, salah satu peserta, dengan mata berbinar berkata, “Saya senang karena bisa menceritakan kisah Malin Kundang dan berdiskusi tentang makanan tradisional. Saya baru sadar, ternyata kua asam dan rumpu rampe itu bagian dari budaya kita.”
Kegiatan hari itu tidak sekadar pengenalan budaya. Ia menjadi benih kebanggaan yang ditanam dalam kesadaran anak-anak yakni bahwa identitas mereka lahir dari akar lokal yang patut dijaga.
Membentuk Nilai Lewat Petualangan Kreatif
Sejalan dengan itu, pada Senin, 12 Mei 2025, anak-anak kembali berkumpul untuk mendalami nilai-nilai budaya positif di sekolah seperti tanggung jawab, kepedulian, disiplin, dan kerja sama. Kali ini mereka tidak hanya mendengar, tetapi mereka mencipta.
Dalam kelompok, mereka menyusun slogan kebersihan, merangkai pantun, menggambar komik tentang saling menghormati, dan bahkan memainkan mini drama tentang kelas impian yang ramah lingkungan. Satu hal yang menarik, anak-anak menyadari bahwa banyak nilai positif sudah mereka lakukan secara spontan.
Dela, yang mendapat peran sebagai guru dalam mini drama, berbagi pengalamannya dengan tulus, “Nilai-nilai ini ternyata sudah sering kami lakukan, tapi baru kali ini kami sadar. Dan hari ini saya bahagia, karena saya bisa menjadi seorang guru.” Tawa kecilnya menyambung makna besar di balik kegiatan. Di sini pembelajaran yang menyenangkan membuat nilai menjadi bagian dari diri.

Belajar Hak dan Kewajiban dengan Cerita Diri
Masih dalam semangat yang sama, keesokan harinya—Selasa, 13 Mei 2025, anak-anak diajak memahami konsep hak dan kewajiban. Bukan dengan ceramah panjang, tetapi lewat cerita dan pengalaman pribadi.
Mereka duduk dalam lingkaran, saling berbagi kisah tentang apa yang menjadi hak mereka di rumah dan apa saja kewajiban yang sering mereka lupakan. Ada yang malu-malu, ada pula yang dengan semangat membagikan pengalaman. Di situ nampak sebuah momen jujur yang memperlihatkan kesadaran baru.
“Kegiatan ini sangat penting,” ujar Agnes. “Anak-anak mulai memahami bahwa hak tidak bisa dipisahkan dari kewajiban. Di usia mereka, pemahaman ini menjadi fondasi karakter yang kuat.”
Mengenal Teman, Mengenal Diri
Setelah belajar mengenali lingkungan, anak-anak juga diajak memahami dirinya sendiri melalui teman. Pada Rabu, 14 Mei, kegiatan bertema “Mengetahui Karakter Teman” dibuka dengan pertukaran fakta menarik antarpasangan.
Dari sesi itu, mereka masuk ke “misi sahabat alam” yang terdiri dari berbagai pos seperti Pos Jujur, Pos Kerja Sama, dan Pos Tanggung Jawab. Aktivitas berpuncak pada pembuatan “potret karakter teman” dalam bentuk puisi, lagu, poster, atau drama mini. Setiap karya disambut dengan tepuk tangan kecil dan komentar apresiatif yang membangun empati di antara mereka.
“Anak-anak belajar saling menghargai perbedaan,” kata Agnes. “Mereka belajar bahwa setiap orang unik, dan itu indah.”

Menanam Janji Baik Lewat Daun Hijau
Puncak dari rangkaian kegiatan ini terjadi pada Kamis, 15 Mei 2025, dalam sesi yang menyentuh tentang kebiasaan baik dan buruk. Anak-anak belajar membedakan sikap melalui permainan interaktif. Mereka menuliskan kebiasaan masing-masing di atas daun kertas dengan ketentuan hijau untuk baik, kuning untuk buruk. Lalu, mereka menempelkannya pada pohon kering.
Marsanda, salah satu peserta, mengungkapkan refleksi yang menyentuh: “Saya akan melakukan sikap baik kepada siapa pun. Karena dengan kita berbuat baik, hidup kita akan jauh lebih bahagia.”
Anak-anak pun diminta menyebutkan satu tindakan baik yang akan mereka mulai hari itu juga. Dari yang sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, hingga lebih kompleks seperti menghargai teman.
Detektif Lingkungan dan Keluarga Hijau: Dari Imajinasi ke Aksi Nyata
Masih dalam rangkaian perjalanan yang sarat makna, pada Senin, 19 Mei 2025, ruang kelas SDK Maumere 1 kembali bertransformasi. Kali ini menjadi panggung imajinasi peduli lingkungan. Anak-anak tampil sebagai “pahlawan bumi” dalam tantangan Misi Hijau. Dengan kertas origami bertuliskan pesan cinta alam, salah satu anak berseru lantang, “Kalau bumi bisa bicara, dia akan bilang: aku butuh bantuanmu.” Kalimat itu menggema seperti panggilan nyata.

Sejalan dengan itu, dalam kegiatan keesokan harinya, mereka bertransformasi menjadi detektif lingkungan. Dengan alat tulis di tangan, anak-anak mengamati sekitar sekolah, menyimpulkan mana lingkungan yang aman dan mana yang berbahaya. “Hari ini luar biasa,” seru mereka saat mempresentasikan komik strip buatan sendiri—penuh warna dan pesan menjaga alam.
Kemudian pada 21 Mei, anak-anak diajak merenung: siapa aku di rumah dan masyarakat? Mereka membuat kartu identitas peran, lalu bermain drama sebagai “keluarga hijau.” Dela, salah satu peserta, berkata bangga, “Saya biasa bantu mama menyapu dan ikut kerja di rumah.”
Refleksi: Menumbuhkan Masa Depan
Seluruh kegiatan ini bukanlah sekadar rangkaian sesi literasi atau pendidikan karakter. Ia adalah benih-benih yang ditanam dengan hati, untuk tumbuh menjadi pohon yang kokoh dalam diri anak-anak Maumere. Setiap tawa, kerja kelompok, dan presentasi kecil adalah langkah menuju masa depan yang lebih sadar budaya, lebih peduli pada lingkungan, dan lebih kuat dalam karakter.
Dalam suasana penuh keceriaan dan kehangatan komunitas kecil itu, tumbuhlah harapan besar. Bahwa anak-anak ini—melalui cerita rakyat, pantun, pohon karakter, dan yel-yel semangat—sedang disiapkan menjadi generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berakar dan peduli.
Karena masa depan yang baik, selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan hari ini—bersama, dalam kebersamaan yang tulus dan berbudaya.

