Di bawah naungan langit Maumere yang teduh, suara tawa anak-anak bergema di ruang kelas SDK Higetegera. Hari itu, Senin, 10 Maret 2025, semangat belajar dan bermain menyatu dalam kegiatan bertajuk “Bermain & Menulis Lewat Permainan Tradisional Tumbu-Tumbu Blanga,” yang merupakan bagian dari program Child Protection for Children at Elementary School in Maumere, Flores yang diselenggarakan oleh SANPUKAT dan KINDERMISSIONWERK-Jerman. Kegiatan ini menjadi wahana yang membangun fondasi literasi menulis dan literasi perlindungan anak sejak dini sebagaimana kata pepatah, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.
Maria Kresensia, sebagai Tutor kegiatan, membuka sesi dengan mengajak anak-anak menyanyikan pantun huruf. “Buah mangga, buah delima, ayo kita menulis bersama. Huruf ‘A’ awal kata, ayo cari contohnya!”, serunya. Anak-anak pun bersahutan, menyebutkan kata-kata yang dimulai dengan huruf yang disebutkan. Karenanya kegiatan ini bukan sekadar permainan, melainkan jembatan menuju pemahaman literasi yang lebih kuat.
Usai pemanasan dengan pantun huruf, tiba saatnya memainkan Tumbu-Tumbu Blanga, permainan klasik yang telah diwariskan turun-temurun. Anak-anak dibagi menjadi tiga kelompok kecil, masing-masing beranggotakan empat orang. Mereka duduk melingkar, mengepalkan tangan yang bertumpuk, lalu sang pemimpin permainan mulai bernyanyi, “Tumbu-tumbu blanga, blanga mina ro rom caka lele, tom-tom-tom sembayah kapiten, buka satu di bawah…” Begitu tangan terbuka, tantangan menulis pun dimulai. Anak yang kesulitan menyalin kata-kata mendapat bantuan dari anggota kelompoknya. Tiada kata menyerah hari itu karena dalam kebersamaan mereka menemukan kekuatan. Barnagkali ini cukup untuk menggambarkan Non scholae sed vitae discimus bahwa belajar bukan sekedar untuk sekolah, tetapi untuk kehidupan.
Sore itu, tak ada kelompok yang kalah, semua anak berhasil menyelesaikan tantangan dengan semangat dan kegembiraan. “Kegiatan Kindermission banyak melakukan permainan-permainan sehingga kami bisa belajar menulis dengan baik dan benar“, ujar Michael Tristan. “Kami juga jadi ingat permainan yang dulu sering kami mainkan,” tambah yang lain. Maria Kresensia pun memberikan pujian kepada semua anak sambil menegaskan bahwa setiap langkah kecil menuju kemajuan adalah kemenangan yang patut dirayakan.

Hari berikutnya, Selasa, 11 Maret 2025, kegembiraan berlanjut dengan tantangan baru yakni Pertempuran Kalimat Sederhana. Kali ini, anak-anak bukan hanya menulis huruf, tetapi menyusun kalimat dengan cepat dan benar. Dengan penuh semangat, mereka dibagi ke dalam tiga tim—Ironman, Spiderman, dan Batman. Lalu mereka bersiap untuk adu kecepatan di “arena duel” di depan papan tulis. Tutor membacakan sebuah kalimat, dan setiap tim mengutus perwakilannya untuk menuliskannya secepat mungkin. Ketepatan dan kecepatan dalam tantangan ini adalah kunci kemenangan. Alhasil, sorak-sorai membahana ketika Saskia dari tim Spiderman berhasil menulis dengan benar dan menjadi yang pertama mendapatkan kertas warna-warni, diikuti tim Ironman dan Batman.
Perlombaan terus berlanjut hingga semua anak mendapat kesempatan berpartisipasi. Walaupun, di akhir permainan, tim Spiderman keluar sebagai pemenang dengan enam kertas warna, disusul Ironman dengan lima, dan Batman dengan empat kertas warna. Meski demikian, semua anak merasa menjadi pemenang, karena mereka telah berlatih menulis dengan cara yang menyenangkan. Ibarat melalui kesulitan menuju bintang, begitulah anak-anak ini meniti jalan mereka dalam dunia literasi.
Kegiatan ini telah mendapat tempat di dalam hati anak-anak. “Kami senang sekali bisa membantu teman-teman yang belum bisa menulis menjadi lebih lancar. Kindermission memang keren!” ujar Antonia Laura K. Wea dengan penuh semangat. Sementara itu, Maria Kresensia menyimpulkan, “Permainan ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi bagaimana anak-anak saling mendukung dan terus berlatih hingga mereka percaya diri dalam menulis.” Lalu kegiatan pun ditutup dengan doa dan tepuk tangan meriah
Dari dua hari yang penuh makna ini, terlihat jelas bahwa pendekatan bermain sambil belajar tidak hanya meningkatkan keterampilan menulis anak-anak, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kerja sama. Langkah kecil ini akan terus berlanjut demi memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang karena dalam ketekunan dan kesabaran, terpendam potensi besar yang siap mengalir ke masa depan yang cerah. (Storytelling: Romi Romario/ Report dan Foto: Maria Kresensia).

