Menumbuhkan Akar Masa Depan: Cerita Anak-anak SDK Maumere 2 dalam Merawat Bumi dan Budaya
Di bawah sinar matahari Flores yang lembut, halaman SDK Maumere 2 menjadi panggung bagi sebuah perjalanan kecil yang kelak meninggalkan jejak besar dalam hidup anak-anak. Selama beberapa minggu pada bulan Mei 2025, deretan kegiatan literasi lingkungan dan perlindungan anak menyatukan imajinasi, pengetahuan, dan harapan dalam satu benang merah: mencintai bumi, memahami sesama, dan menghargai diri sendiri. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Child Protection for Children at Elementary School in Maumere, Flores yang diselenggarakan SANPUKAT dan KINDERMISSIONERK- Jerman
Hari Pertama: Menggali Akar Budaya, Menanam Rasa Bangga
Sabtu, 10 Mei 2025 menjadi langkah awal yang penuh warna. Di halaman sekolah, Leonardus A. Mauritio, sang tutor, membuka sesi dengan doa, tepuk semangat, dan seutas kisah rakyat berjudul Du’a Nalu Pare. Cerita itu tidak sekadar dongeng, tapi pintu bagi anak-anak mengenal akar mereka sendiri.
Dalam sesi itu, anak-anak tidak hanya mendengar kisah, mereka menghidupkannya. Mereka memerankan tokoh, menebak gerakan, menyusun komik pendek, hingga menari tarian Hegong, lengkap dengan menyebut alat musik tradisional seperti gong waning. Hal itu pula yang dirasakan oleh Ayu. “Yang saya suka waktu kami bermain peran dari cerita itu, saya jadi kakek!” ujar Ayu dengan mata berbinar.
Tidak hanya itu saja, anak-anak kemudian melanjutkan dengan misi kecil: mencari tanaman lokal dan menjelaskan manfaatnya. “Kami sempat bingung, tapi tutor bantu kami mengenal tanaman-tanaman itu,” tutur Sintia, yang juga menggambar poster edukatif tentang flora lokal. Dari sini, cinta pada budaya dan alam mulai tumbuh.

Menapaki Hari-hari Literasi: Dari Sekolah ke Masyarakat
Pada hari Senin, 12 Mei, ruang kelas V kembali dipenuhi semangat tentang “Budaya Positif Sekolah”. Anak-anak membentuk kelompok, mengamati lingkungan sekolah, dan menyusun pantun serta komik tentang kebersihan dan rasa hormat. Sesi ini bukan sekadar kreativitas, tapi pelajaran karakter yang dalam.
Dalam kegiatan itu, Tutor Leonardus menekankan pentingnya tanggung jawab kecil seperti menyapu kelas dan disiplin waktu, sebagai fondasi budaya sekolah yang sehat. Salah satu peserta meresponsnya dengan berkata: “Sekarang saya tahu kenapa tidak boleh buang sampah sembarangan,” kata Pandu dengan bangga.
Hari berikutnya, 13 Mei, konsep hak dan kewajiban dibahas dengan cara yang menyenangkan dan reflektif. Anak-anak bermain simulasi “kota mini”, menjadi pemimpin, warga, dan jurnalis. Di situ, mereka berdiskusi tentang krisis sampah dan berputar menyelesaikan misi lingkungan di tiga pos.
Beberapa peserta juga memberikan komentar seperti: “Saya jadi tahu, hak saya itu hidup di lingkungan bersih, tapi saya juga punya kewajiban untuk menjaganya,” ujar Ayu, setelah menyelesaikan misinya dan membuat poster bertema “Warga Hebat”.

Mengenal Teman, Mengenal Diri
Kamis, 15 Mei membawa tema yang lebih personal: “Mengetahui Karakter Teman”. Di teras kelas, anak-anak saling berbagi fakta menarik tentang diri mereka. Kegiatan ini membuka ruang untuk empati dan kejujuran. Hal ini mendapat respons positif dari anak-anak dengan menceritakan kisah empatinya. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Seorang anak, Nong, yang bercerita tentang momen ketika ia memberikan alat tulis kepada temannya yang kekurangan. “Karena kalau aku di posisi itu, aku pasti sedih,” katanya pelan.
Maka dari itu, kegiatan menyusun puzzle lingkungan, membuat poster sahabat, hingga membaca puisi tentang teman menjadi jembatan bagi anak-anak mengenal bahwa pertemanan pun bisa menjadi ladang nilai dan pembelajaran.
Menyaring Kebiasaan, Menyemai Kesadaran
Esok harinya, Jumat, 16 Mei, anak-anak memulai petualangan “Lintasan Si Bijak” untuk mengenali kebiasaan baik dan buruk. Mereka bermain peran, menebak tindakan, dan menulis refleksi pribadi di daun kertas yang ditempel di pohon simbolis. “Aku tulis kebiasaan burukku adalah melawan orang tua,” kata seorang anak dengan lirih.
Kemudian, dalam lingkaran terakhir, dengan mata tertutup, mereka diajak merenung dan berjanji untuk berubah. Ayu mencatat, “Sekarang aku tahu, setiap kebiasaan itu punya dampak. Aku mau mulai dari hal kecil.”
Kreatif Menjaga Lingkungan, Bumi pun Tersenyum
Selasa, 20 Mei, kelas III berubah menjadi arena kreativitas menjaga bumi. Anak-anak membayangkan jika gambar lingkungan bisa bicara. “Hutan akan bilang: jangan bakar aku. Aku tempat tinggal makhluk hidup,” ujar Javier saat menunjukkan gambar hutan terbakar.
Mereka lalu membuat kerajinan dari barang bekas, memecahkan teka-teki hijau, menciptakan gerakan hemat air, dan menggambar poster tentang aksi lingkungan. Rey, salah satu peserta, berkata, “Bumi itu seperti sahabat. Kalau kita jaga, dia akan tetap senyum.”

Mengenal Zona Aman dan Bahaya
Keesokan harinya, 21 Mei, giliran anak-anak menjadi detektif lingkungan. Dengan papan bertuliskan “aman” dan “bahaya”, mereka menilai gambar dan memberi alasan. Ayu dengan tegas menyebut merokok di dekat keluarga sebagai bahaya. “Asap itu racun, bisa bikin sakit,” katanya.
Kegiatan ini diakhiri dengan membuat komik mini si penjaga lingkungan. Walau masih belajar, anak-anak mampu menuangkan narasi sederhana namun menyentuh, tentang bumi yang butuh penjaga, bukan perusak.
Dari Rumah ke Kampung: Merangkul Peran Sejak Dini
Literasi lingkungan pun ditutup pada Jumat, 23 Mei, dengan tema “Peran di Keluarga dan Masyarakat.” Dalam kegiatan itu, anak-anak menulis peran mereka di rumah, lalu bermain drama keluarga hijau, membuat peta peranku, dan menandatangani kontrak sebagai agen lingkungan.
Bahkan, Galang dengan jujur mengungkapkan, “Dulu saya cuma main saja di rumah. Tapi sekarang saya tahu, saya bisa bantu orang tua, menyapu halaman, dan jadi anak yang bertanggung jawab.”
Menutup dengan Harapan
Akhirnya,di antara daun kering yang telah ditempeli janji, komik sederhana yang terpajang di dinding kelas, dan suara tawa yang bergema setiap sore, program ini bukan sekadar rangkaian aktivitas. Ia adalah perjalanan kecil yang mengubah cara pandang anak-anak Maumere terhadap lingkungan, sesama, dan diri mereka sendiri.
Tutor Leonardus menyimpulkan dengan haru, “Saya percaya, dari sini akan tumbuh generasi yang bukan hanya cerdas, tapi juga peduli. Mereka tidak hanya tahu bagaimana menjaga bumi, tetapi mereka mencintainya.”
Dan begitulah, di kelas sekolah yang sederhana itu, tunas-tunas masa depan tumbuh. Tidak dalam gegap gempita, tapi lewat tawa yang tulus, kerja sama yang hangat, dan tekad anak-anak untuk menjadi penjaga bumi, penjaga budaya, dan penjaga sesama. (Feature: Christian Romario/ Foto dan Activity report: Leonardus Mauritio).

