Di bawah langit biru Flores yang jernih, anak-anak SDK Nangalimang menjalani proses belajar yang berbeda dari biasanya. Mereka bukan hanya duduk di bangku kelas, melainkan juga berpetualang, berdiskusi, mencipta, dan mengenali diri sendiri serta lingkungan. Dalam program Child Protection for Children at Elementary School in Flores/Indonesia pada bulan Mei ini, anak-anak yang didampingi Tutor Maria Yulianti mengeja arti tanggung jawab, kepedulian, dan cinta pada budaya dengan cara yang sederhana, namun bermakna.
Cinta Budaya, Cinta Alam
Pada hari-hari pertama, anak-anak diajak mengenali cerita rakyat dan tumbuhan obat di lingkungan sekitar. Dalam kegiatan yang penuh tawa, mereka menebak tokoh dalam cerita rakyat melalui gerakan tubuh dan menelusuri halaman sekolah untuk mencari tanaman tradisional penyembuh. “Saya baru tahu kalau daun pepaya bisa untuk tipus dan malaria,” kata Selo sambil menulis deskripsinya di kertas.
Tak lama berselang, mereka menjelma menjadi “detektif budaya sekolah.” Dengan peta sederhana di tangan, mereka menjelajahi halaman depan hingga belakang sekolah, mengamati kebersihan lingkungan, lalu menuliskan pantun dan slogan tentang kebersihan. “Saya bisa membuat poster tentang jagalah lingkungan,” ujar Julio bangga. Ucapan sederhana itu seolah mewakili semangat awal dari program ini—menumbuhkan cinta terhadap budaya dan alam sejak dini.

Karakter dan Kolaborasi
Selain mencintai budaya dan alam, anak-anak juga diajak memahami orang lain. Dalam sesi “Mengenal Karakter Teman,” mereka bertukar fakta menarik, mengenali nilai seperti kejujuran dan tanggung jawab lewat pos-pos permainan, hingga menggambarkan sahabat mereka dalam poster dan puisi mini. Salah satu peserta berkata: “Saya bisa mengenal karakter teman saya Intan dengan baik,” ungkap Ana. Ungkapan ini tanpa disadari telah menggambarkan nilai dari kegiatan ini yakni menanamkan kesadaran dalam diri anak-anak bahwa perbedaan bukan halangan untuk saling menghargai.
Selanjutnya di kegiatan lain, anak-anak memainkan “kota mini” —sebuah simulasi di mana mereka menjadi warga masyarakat kecil dengan hak dan kewajiban. Ada yang berperan sebagai pemimpin, penjaga lingkungan, hingga jurnalis. Di situ, mereka belajar menyusun paragraf dari kalimat acak, lalu menggambar dan membuat poster tentang “warga hebat, lingkungan hebat”. Bahkan Ana yang tadi mengenal temannya, kini belajar menjadi penjaga lingkungan. “Anak-anak belajar tidak hanya tentang kebersihan, tetapi tentang bagaimana menjadi bagian dari solusi,” ujar Margareta Yulianti, tutor yang memfasilitasi semua kegiatan.

Menilai Diri Sendiri dan Berubah
Setelah memahami budaya dan karakter teman, tibalah saat anak-anak merenungi kebiasaan mereka sendiri. Dalam sesi “Menyaring Kebiasaan Baik dan Buruk”, mereka memainkan permainan pos—memilah tindakan baik dan buruk, membaca cerita pendek, hingga menebak tindakan dalam permainan peran. Lalu puncaknya, setiap anak menulis dua kebiasaan baik dan satu kebiasaan buruk mereka. Yang baik ditempel di “pohon harapan,” sementara yang buruk di “pohon kering.” Salah satu peserta Intan mengatakan “ lewat kegiatan ini, saya tahu kebiasaan buruk saya dan saya berjanji mau berubah,” ujar nya dengan mata serius.
Tidak hanya berhenti di sana, anak-anak juga diajak menjadi kreatif lewat daur ulang. Dengan plastik bekas di tangan, mereka membuat bunga warna-warni dan menulis cerita tentang “Perjalanan Daun Menuju Tempat Sampah.“Saya bisa membuat bunga dari plastik kresek,” kata Gisel, tersenyum lebar.” Di samping itu, dalam simulasi hemat air, mereka belajar bahwa kepedulian pada lingkungan bisa dimulai dari rumah sendiri.

Detektif Lingkungan dan Suara Bumi
Pada pertemuan terakhir, suasana menjadi lebih reflektif. Anak-anak menjelajah empat zona sekolah: tempat pembuangan sampah, ruang kepala sekolah, dan area terbuka. Di setiap titik, mereka menilai—mana yang termasuk lingkungan aman dan mana yang berbahaya. Mereka membuat daftar solusi, menggambar poster, dan menyampaikan hasil investigasi.
“Bumi akan sedih kalau dirinya kotor,” ucap Gibran, polos namun tajam. Pernyataan itu menjadi kesimpulan tak tertulis dari seluruh rangkaian kegiatan. Bahwa anak-anak tidak hanya belajar mengenal lingkungan, tetapi belajar mencintainya.
Bukan Sekadar Proyek Sekolah
Selama tujuh hari pembelajaran yang berbeda, anak-anak Kindermissionwerk diajak menjadi warga kecil yang bertanggung jawab. Mereka menulis, menggambar, mencipta, dan merenung—bukan karena diminta, tetapi karena diajak berpikir dan merasa.
Program yang diselenggarakan SANPUKAT dan KINDERMISSIONWERK ini tidak hanya membuat anak tahu lebih banyak, tetapi juga membuat mereka peduli,” ungkap Margareta. Dalam setiap tawa, poster, atau kalimat reflektif, tersimpan benih perubahan yang mungkin akan tumbuh menjadi pohon harapan bagi lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial mereka ke depan.
Dan seperti yang dikatakan oleh salah satu anak Nova, “Kalau bumi bisa bicara, dia pasti tersenyum sekarang.”

