Di sebuah sore yang hangat di Maumere, suara tawa dan celoteh anak-anak bergema di halaman SDK Maumere 1. Mereka tidak sedang bermain asal-asalan, tetapi mereka sedang belajar sambil bermain. Pintu kelas yang terbuka lebar menjadi saksinya dimana anak-anak membungkuk di atas kertas, menggambar, menulis, atau mendongeng dengan wajah penuh antusias. Mereka bukan sekadar mengikuti pelajaran biasa, melainkan mereka sedang menjelajahi dunia, memahami hidup, dan mengenal diri mereka sendiri lewat program Child Protection for Children at Elementary School in Maumere, Flores yang diselenggarakan SANPUKAT dan KINDERMISSIONWERK-Jerman.
Mengenali Tanah Kelahiran (7 Mei 2025)
Segalanya dimulai pada 7 Mei, ketika Anastasia Emelindis, tutor yang membimbing kegiatan, membawa anak-anak ke dalam semesta budaya lokal. Ia membacakan cerita rakyat dari Sikka, lalu mengajak anak-anak menebak adegan lewat gerakan tubuh. Hal itu membuat suasana menjadi hidup. Anak-anak tertawa, bergerak bebas, dan menyelami cerita dari leluhur mereka.
Setelahnya, mereka diajak menggambar peta lingkungan sekolah. Anak-anak menggambar bukan dengan pendekatan teknis, tetapi dengan menyertakan titik-titik penuh makna seperti tempat tumbuhnya kunyit, pohon sukun, atau batu tempat mereka biasa duduk berbincang. Hingga akhirnya, setiap kelompok membacakan puisi tentang alam dan budaya. Dari peta dan puisi, mereka tak hanya belajar, tetapi juga merayakan identitas mereka. Bahkan ada peserta yang memberikan apresiasi atas kegiatan ini, “Saya merasa senang karena bisa belajar bersama teman-teman dan mengenal budaya lokal,” kata Edwar.

Menanamkan Nilai di Halaman Sekolah (12 Mei 2025)
Sejalan dengan itu, dalam kegiatan berikutnya lima hari kemudian, semangat yang sama dibawa ke ruang terbuka. Anak-anak memainkan permainan “teman rahasia” di mana mereka diam-diam bertanggung jawab menjaga kebersihan dan kenyamanan satu sama lain. Hal ini pula yang dirasakan oleh Fortune. “Kami jadi saling perhatian tanpa harus disuruh,” ujar Fortun dengan matanya berbinar.
Anak-anak lalu keluar mengamati lingkungan sekolah. Mereka melihat taman, tempat sampah, hingga ruang kelas yang berdebu. Dari situ, mereka kembali ke kelas dan menciptakan pantun tentang kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dengan mata dan hati yang telah terbuka. Tentunya lirik-lirik pantun yang sederhana yang dibuat oleh mereka turut menyelipkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan empati yang akan tumbuh bersama anak-anak.
Hak, Kewajiban, dan Kota Mini (14 Mei 2025)
Masih dalam semangat yang sama, dua hari kemudian ruang kelas berubah menjadi kota mini. Kali ini, anak-anak berperan sebagai warga, pemimpin, dan penjaga lingkungan dalam skenario krisis sampah. Mereka berdiskusi, berdebat, dan menyepakati solusi sambil memahami bahwa setiap hak selalu datang bersama kewajiban. “Kalau kita ingin lingkungan bersih, berarti kita semua harus ikut jaga, bukan hanya guru atau petugas,” ujar Ica. Kemudian, setiap kelompok menggambar poster “Warga Hebat, Lingkungan Hebat” dan membagikannya kepada teman-teman. Memang tak ada yang terlalu kecil untuk mengajarkan tanggung jawab sosial termasuk simulasi kecil di kelas sederhana ini.

Menemukan Teman, Mengenali Diri (15 Mei 2025)
Setelah belajar mengenali lingkungan dan hak-kewajiban di dalamnya, anak-anak juga diajak memahami dirinya sendiri dan orang lain. Dalam sesi bertema “Mengetahui Karakter Teman,” mereka saling memperkenalkan fakta menarik satu sama lain, lalu menggambar komik dan menulis puisi tentang karakter temannya.
Ada keheningan yang khidmat ketika puisi-puisi itu dibacakan. Seperti diungkapkan salah satu peserta. “Saya bangga punya teman seperti Maria, karena dia tidak pernah marah kalau saya minta bantu,” bunyi salah satu kutipan. Di momen-momen seperti ini, nilai seperti empati dan penghargaan terhadap perbedaan tidak diajarkan lewat ceramah, melainkan lahir dari pengalaman langsung yang sederhana namun menyentuh.
Pohon Harapan Anak-anak Maumere (16 Mei 2025)
Kemudian pada 16 Mei. Anak-anak berkumpul di halaman dan mengikuti permainan “Bintang atau Awas”. Di situ, mereka harus mengangkat tangan jika tindakan yang disebutkan baik, atau menyilangkan tangan jika buruk. Suasana riuh dan seru tak tertahankan, tapi tetap sarat makna.
Akhirnya, setelah menjelajah tiga pos tantangan, mereka menulis pada lembaran kertas tentang kebiasaan baik yang ingin dipertahankan dan kebiasaan buruk yang ingin ditinggalkan. Kertas-kertas itu ditempel di daun-daun pohon imajinasi yang mereka gambar sendiri. Daun hijau untuk yang baik, daun kuning untuk yang perlu diperbaiki. Hal ini setidaknya telah menumbuhkan kesadaran awal pada anak-anak sebagaimana dirasakan Raisya. “Saya mau mulai belajar buang sampah pada tempatnya dan tidak bohong,” kata Raisya, dengan yakin.
Kendati demikian, ini belum menjadi puncak dari kegiatan karena di tiga episode selanjutnya, masih banyak hak menarik ynag dipejarai anak-anak tentang lingkungan.
Menyulam Masa Depan dari Hal-hal Sederhana
Namun, dari cerita rakyat hingga pohon harapan, dari peta sekolah hingga puisi karakter teman, anak-anak SDK Maumere 1 telah melakukan perjalanan yang lebih dari sekadar belajar. Mereka tumbuh. Mereka mengenali lingkungan dan budaya mereka, memikirkan tanggung jawab sebagai warga kecil, dan yang tak kalah penting mereka belajar mencintai diri sendiri dan orang lain.
Program literasi lingkungan yang menjadi tema Child Protection di bulan Mei bukan sekadar agenda literasi. Ia menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk menyuarakan pendapat, bermain sambil berpikir, serta belajar tanpa rasa takut. Tutor Anastasia Emelindis merasakan sendiri perubahan itu. “Saya merasa bangga karena anak-anak bukan hanya berani berbicara, tapi juga mulai berpikir kritis dan menunjukkan empati.”
Masa depan mungkin masih jauh, tapi di SDK Maumere 1, masa depan itu sedang disulam perlahan lewat tangan-tangan mungil yang menggambar, menulis, dan bermimpi di balik tawa-tawa riang dan pohon-pohon hijau, di ruang kelas dan di hati mereka sendiri. (Feature: Christian Romario/ Foto dan report: Anastasia Emelindis)

