SANPUKAT KEUSKUPAN MAUMERE
Menu
  • Beranda
  • Berita
  • Blog
    • Humaniora
    • Renungan
    • Storytelling
  • Profil
  • Mitra
    • Kindermissionwerk
  • Galery
  • Disclaimer
  • About
Menu
APORIA PELECEHAN SEKSUAL

APORIA PELECEHAN SEKSUAL

Posted on 18 Maret 202518 Maret 2025 by Sanpukatadmin

Di ruang kelas, guru berdiri di depan kelas bukan hanya sebagai penyampai ilmu kepada murid, tetapi juga sebagai pemegang otoritas. Pada guru, ada kuasa untuk membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman. Karena itu,  guru dipercaya sebagai figur yang mengarahkan, melindungi, dan mendidik. Suatu kepercayaan yang kemudian menciptakan horizon pengalaman yang diatur oleh ekspektasi bahwa guru tidak mungkin melakukan tindakan pelecehan seksual.

Namun, ekspektasi ini tak jarang berbenturan dengan kenyataan sebab sudah banyak berita-berita  di media sosial maupun media massa menampilkan pelecehan seksual yang dilakukan guru terhadap murid. Kekerasan seksual  membuat ekspektasi tentang guru mengalami keretakan. Pelecehan  seksual  tidak hanya meretakkan moralitas, tetapi juga meretakkan kerangka epistemologis yang membentuk pemahaman korban dan masyarakat tentang guru sebagai figur yang melindungi dan mendidik.

Keretakan figur guru sebagai konsekuensi dari tindakan pelecehan seksualnya telah menghilangkan aspek  fenomenologis dari relasi guru dan murid. Barangkali fenomenologi pemberian dari Jean-Luc Marion dapat menjadi titik tolak untuk memahaminya. Marion mengembangkan konsep pemberian (donnéité), yaitu bagaimana sesuatu menjadi fenomena dengan memberikan dirinya sendiri tanpa paksaan dan tanpa dikendalikan oleh subjek. Baginya, fenomena sejati hanya muncul ketika ia memberikan dirinya sendiri (gives itself) dan memperlihatkan dirinya sendiri (shows itself) dalam kebebasannya. Fenomena tidak boleh dipaksa atau dikendalikan oleh suatu subjek yang mendominasinya karena tindakan tersebut akan mengasingkan fenomena dari dirinya sendiri dan menjadikannya sekadar objek bagi subjek yang mengontrolnya.

Pengasingan inilah yang terjadi pada pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru terhadap murid. Pelecehan seksual menghilangkan dimensi fenomenologis karena peristiwa ini bukanlah fenomena yang hadir karena ia ingin hadir, melainkan karena fenomena itu dipaksa untuk ada. Fenomena pelecehan seksual diambil alih oleh guru sehingga fenomena itu kehilangan keotentikan dan berubah menjadi sekadar objek dalam struktur kekuasaan dan otoritas seorang guru. Pelecehan seksual menjadi fenomena yang tidak otentik  karena ia tidak hadir sebagai sesuatu yang memberi dirinya sendiri, melainkan sebagai sesuatu yang dipaksakan dan mengasingkan penerimanya yakni murid.

Padahal menurut Jean-Luc Marion, fenomena mesti memberikan dirinya sendiri kepada penerima, terlepas dari kesadaran atau intensionalitas subjek.  Penerima pemberian harus memiliki kapasitas untuk menerima pemberian tersebut secara bebas. Penerima adalah syarat mutlak bagi pemberian yang sejati, di mana penerima memiliki hak penuh untuk mengakui atau menolak pemberian tersebut. Artinya, menerima sebuah pemberian selalu melibatkan suatu bentuk pengakuan terhadap keberadaan pemberian itu sendiri. Penerima fenomena lebih diutamakan oleh Jean Luc Marion sebagai alternatif terhadap konsep yang terlalu menekankan subyek sebagai pusat pengalaman, pusat eksistensi, keberadaan dalam dunia, dan kesadaran sebagai pusat pengalaman sebagaimana diklaim oleh  Descartes dengan cogito ergo sum, Kant dengan kesadaran diri transendental, Heiddeger dengan Dasein-nya, dan Edmund Husserl dengan fenomenologi kesadarannya. Jean-Luc Marion memberikan tempat kepada konsep penerima pemberian ketimbang subyek karena dalam konsep subyek ada aporia atau kebuntuan yakni tidak benar-benar membuka kemungkinan bagi kehadiran “yang lain, tidak  memberikan dirinya sendiri kepada yang lain sebagai penerima dan terlepas dari konstruksi subyek. Itulah aporia atau kebuntuan yang juga membayangi tindakan pelecehan seksual terhadap murid yakni murid kehilangan statusnya sebagai penerima fenomena yang otonom dan bebas. Hal ini karena fenomena pelecehan seksual sepenuhnya dikondisikan dan dikontrol oleh subyek yang berkuasa yakni guru. Dalam pelecehan seksual murid tidak diberikan pilihan untuk menerima atau menolak oleh guru, tetapi dipaksa untuk menerima pelecehan seksual. Dengan demikian, penerimaan terhadap fenomena pelecehan seksual bukan lagi sebuah keputusan bebas, melainkan sesuatu yang dipaksakan dalam relasi kuasa.

Untuk mengatasi distorsi ini, pendidikan harus bertransformasi dari hubungan subjek-objek yang hierarkis menjadi hubungan subjek-penerima. Transformasi ini bukan sekadar konsep, melainkan harus menjadi praktik. Hal itu berarti bahwa murid harus diajarkan untuk memahami dan menghargai pengalaman mereka sendiri sebagai penerima fenomena sehingga mereka dapat mengenali dan menolak bentuk-bentuk interaksi yang mencabut kebebasan mereka. Jika murid mengalami pelecehan, maka harus ada mekanisme untuk mengembalikan keotentikan pengalaman mereka termasuk sistem pelaporan dan dukungan perlindungan anak yang memungkinkan mereka mengalami kembali fenomena pendidikan dalam bentuk yang sehat dan bebas. Di samping itu, sekolah perlu menerapkan etika penerimaan di mana guru harus melihat murid sebagai penerima yang otonom, bukan sebagai objek yang dikontrol. Pendidikan harus dirancang untuk memungkinkan murid menerima pengetahuan dan pengalaman dengan kebebasan penuh. Karena itu, di dalam ruang kelas tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Yang ada hanyalah dua manusia yang saling berjumpa. Barangkali ini bukan sekadar soal pendidikan, tetapi soal bagaimana kita memandang manusia. (Romi Romario)

PUSTAKA

Marion, Jean Luc. Being Given. Toward a Phenomenology of Givenness. Terjemahan oleh Jeffrey L. Kosky: Stanford University Press, California, 2002

Category: Humaniora

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • 2026
  • 2025
  • 2024
  • 2023
  • 2022

BERAGAM INFORMASI SANPUKAT

Berita

SDK KOTING I RAYAKAN HUT KE-115, RD. OKTO TEGASKAN EKSISTENSI SANPUKAT

Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik, RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th., turut menghadiri perayaan peringatan hari ulang tahun ke-115 ...
Baca Selanjutnya
26 Januari 2026 / Sanpukatadmin
Berita

ADAKAN UPACARA PELETAKAN BATU PERTAMA, SMAK ST. YOSEP TANA AI SIAP PEMBANGUNAN GEDUNG KEDUA

Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT), RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th., turut hadir ...
Baca Selanjutnya
24 Januari 2026 / Sanpukatadmin
Berita

TK DIDI DODO RAYAKAN HARI ULANG TAHUN KE-52, KETUA SANPUKAT TEGASKAN ‘FILOSOFI KEBUN’

Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT), RD. Yulius Heribertus, S. Fil, M. Th., berkesempatan hadir ...
Baca Selanjutnya
22 Januari 2026 / Sanpukatadmin

IKUTI PERLINDUNGAN ANAK KINDERMISSIONWERK

SANPUKAT–Kindermissionswerk Serahkan Hadiah Lomba Perlindungan Anak di SDK Habi
Kindermissionwerk

MEAL OFFICER SANPUKAT-KINDERMISSIONWERK SERAHKAN HADIAH LOMBA PERLINDUNGAN ANAK SDK HABI

Maumere, Berita SANPUKAT – Monitoring, Evaluation, Analysis, and Learning (MEAL) Officer SANPUKAT & Kindermissionswerk–Jerman, Christian Romario menyerahkan hadiah lomba The ...
Baca Selanjutnya
9 Agustus 2025 / Sanpukatadmin
Kindermissionwerk

MENJADI MICROSOFT INNOVATIVE EDUCATOR EXPERT DARI WEBINAR BERSAMA KOMDIGI, MICROSOFT, BERSAMA FOCUS AND TARGET

Pada Selasa, 8 Juli 2025, seorang staff SANPUKAT Christian Romario mengikuti sebuah webinar nasional bertajuk ...
Baca Selanjutnya
10 Juli 2025 / Sanpukatadmin

RASA NYAMAN BERSAMA RENUNGAN SANPUKAT

Renungan

PERAYAAN EKARISTI ZIARAH SEKOLAH NAUNGAN SANPUKAT

TPE ZIARAH 2025 FIX REVISIUnduh ...
Baca Selanjutnya
MENUMBUHKAN AKAR MASA DEPAN: CERITA DARI ANAK-ANAK SDK MAUMERE 2
Renungan

MENUMBUHKAN AKAR MASA DEPAN: CERITA DARI ANAK-ANAK SDK MAUMERE 2

Di sebuah sudut damai di Pulau Flores, tepatnya di Keuskupan Maumere, anak-anak berkumpul bukan hanya untuk belajar menghitung atau mengeja ...
Baca Selanjutnya
Renungan

KERJA TANPA HENTI SEPERTI SYSYPHUS

Renungan Sabtu, 8 Februari 2024 BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani 13:15-17.20-21, MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 23:1.3a.4b.5.6, BACAAN INJIL: ...
Baca Selanjutnya

IKUTI GALERY SANPUKAT

Galery

GALERI AKREDITASI SEKOLAH-SEKOLAH SANPUKAT NOVEMBER 2025

Pada November 2025, ada beberapa sekolah Sanpukat yang mengadakan visitasi akreditasi. Berikut foto-foto akreditasi yang dikumpulkan Mimin ...
Baca Selanjutnya
TERIMA KASIH YANG TULUS KEPADA BPK. ANDREAS HUGO PARERA
Galery

TERIMA KASIH YANG TULUS KEPADA BPK. ANDREAS HUGO PARERA

Perjalanan panjang Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT) dalam melanjutkan warisan misi pendidikan Katolik lewat sekolah-sekolah di bawah naungannya tidak hanya ...
Baca Selanjutnya
pelatihanhari ke V sanpukat dan smipa disada
Galery

GALERY PELATIHAN HARI KE V SANPUKAT BERSAMA DENGAN SMIPA DISADA

Pelatihan hari ke V Smipa Disada bersama guru dan tutor SANPUKAT berfokus pada presentasi modul literasi, Sabtu (16/12/2023) ...
Baca Selanjutnya
© 2026 sanpukatmaumere | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme