Di pelosok Kabupaten Sikka, di sebuah sekolah dasar sederhana bernama SDK 016 Woloone, terjadi sebuah kisah yang menyentuh tentang masa depan. Kisah yang dibangun bukan dalam bentuk teknologi canggih atau gedung pencakar langit, tetapi lewat suara-suara kecil yang bersemangat, tangan-tangan mungil yang saling menggandeng, dan hati-hati muda yang perlahan menyadari bahwa mereka punya kuasa untuk melindungi dunia ini, dimulai dari mengenal diri dan budaya mereka sendiri lewat program Child Protection for Children at Elementary School in Maumere/Flores yang diselenggarakan SANPUKAT dan KINDERMISSIONWERK-Jerman.
08 Mei 2025: Akar Identitas di Cerita dan Tanaman
Kisah ini dimulai pada Kamis siang, saat mentari membias hangatnya ke lantai-lantai ruang kelas SDK 016. Anak-anak berdiri di samping meja, mata mereka berbinar saat Yuliana Jata, sang tutor, memulai dengan kisah. “Siapa tahu cerita rakyat?” tanyanya. Pertanyaan pemantik yang segera di respon oleh Revan dengan mengangkat tangan dan bercerita tentang asal-usul padi. “Dulu nenek pernah cerita, padi itu hadiah dari langit,” katanya polos. Lalu diikuti oleh Vilan yang membacakan kisah “Malin Kundang” dari Sumatera sehungga membuat teman-temannya larut dalam dunia cerita.
Namun lebih dari dongeng, hari itu mereka juga menelusuri budaya lokal dari tarian gawi hingga makanan adat seperti Filu dan Ke’o Kibi. Dalam kelompok-kelompok kecil, mereka menelaah gambar tumbuhan lokal dan menulis manfaatnya. “saya sangat senang karena bisa belajar mengenal budaya lokal setempat dan bisa mengetahui tanaman-tanaman yang bermanfaat,” ujar Revan dengan takjub. Rupanya momen ini menyentuh akar terdalam dari keberadaan mereka yakni rasa bangga pada dunia lokal.
09 Mei 2025: Merawat Sekolah, Merawat Diri
Esok harinya, suasana tak kalah meriah. Kali ini, semangat mereka tertuju pada “budaya positif sekolah”. Setelah nyanyian dan doa, anak-anak bergerak ke luar kelas. Tangan-tangan kecil itu memunguti sampah, memungut kesadaran tentang tanggung jawab. “Senang ya kalau sekolah bersih?” tanya Yuliana. Serentak mereka menjawab, “Senang!”. Tak lama, poster-poster tentang kebersihan mulai dipenuhi warna dan slogan bertuliskan “Lingkunganku, tanggung jawabku” hingga “Bersih itu sehat”.
Kegiatan ini telah menarik simpati dari anak-anak. Okta, salah satu siswa, berkata, “Kegiatan ini membantu kami mencintai lingkungan. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di kampung kami.” Tanpa disadarinya, Ini adalah suatu refleksi yang sederhana namun dalam.
12 Mei 2025: Mengenal Hak dan Kewajiban, Menjadi Warga Hebat
Pada hari Senin berikutnya, ruang kelas kembali dipenuhi tawa dan diskusi serius. Tema hari itu adalah hak dan kewajiban dalam masyarakat. Anak-anak berdiskusi dalam kelompok, memainkan peran sebagai pemimpin, warga, jurnalis, dan penjaga lingkungan. Sementara itu, di salah satu sudut, sekelompok anak membuat poster besar bertuliskan “Warga Hebat, Lingkungan Hebat.” Sedangkan disudut lainnya lagi, Vilan, Putri, dan Fitri menciptakan karya penuh warna dan kata-kata inspiratif.
Dari aktivitas hari itu, mereka belajar bahwa menjadi bagian dari masyarakat berarti juga punya tanggung jawab, sekecil apapun. “Saya sangat senang, karena bisa tahu apa hak dan kewajiban saya,” kata Nando dengan senyum malu-malu.
21 Mei 2025: Menggambar Sahabat, Memahami Empati
Beberapa hari kemudian, pada Rabu sore yang damai, mereka belajar memahami karakter teman. Kegiatan dimulai dengan saling bertukar informasi tentang hobi, makanan favorit, dan cara menjaga lingkungan. Kemudian mereka menggambar teman dan menulis puisi. Salah satunya adalah Putri yang maju ke depan kelas dan membacakan puisinya, “Sahabat Baruku”. Seketika suasana menjadi hening saat bait-baitnya mengalun penuh kejujuran dan kehangatan. “Aku senang, karena sekarang aku punya teman baru yang selalu tersenyum,” katanya menutup puisinya.
Sontak suara tepuk tangan memenuhi ruangan. Bukan hanya karena puisi itu indah secara teknis, melainkan juga karena ia keluar dari hati dan menyentuh hati.
22 Mei 2025: Menghapus Kebiasaan Buruk, Menulis Harapan
Keesokan harinya, anak-anak belajar membedakan kebiasaan baik dan buruk. Lewat permainan “sampah ceria” dan “tebak tindakan”, mereka mulai mengenali bahwa tidak semua hal yang biasa dilakukan itu benar. “Saya ingin memperbaiki kebiasaan suka buang sampah sembarangan,” tulis seorang anak di kertas kecil yang kemudian mereka tempel di mading sekolah.
Bahkan Filan berkata dengan tegas, “Kegiatan ini membantu saya memperbaiki kebiasaan buruk. Karena kebiasaan buruk itu tidak baik.” Suatu Kata-kata yang nampak sederhana, namun merupakan awal dari perubahan.
23 Mei 2025: Menjadi Penjaga Bumi dengan Imajinasi
Pada hari Jumat, kegiatan memasuki babak yang lebih imajinatif. Lewat gambar lingkungan yang rusak dan bersih, anak-anak membayangkan suara bumi. Dalam kata-kata sederhana, mereka menyerukan harapan untuk bumi yang lebih hijau, lebih bersih, dan lebih sehat. “Kalau bumi bisa bicara, dia akan berkata ‘Aku sangat membenci manusia yang sudah membakar aku’,” ucap seorang anak dengan mata berkaca-kaca. Di sini, lewat permainan “penjaga bumi”, mereka menjelajahi pos daur ulang dan teka-teki hijau hungga membuat poster kampanye bertema “Aksiku untuk Bumi” yang menghiasi dinding sekolah.
“Kami belajar menjaga lingkungan dan mengajak teman-teman lewat tulisan kami,” kata Modrik dengan semangat yang mengalir dari nurani.
Refleksi: Dari Tangan Kecil Menuju Harapan Besar
Keenam hari itu bukan sekadar rangkaian kegiatan. Mereka adalah benih-benih kecil yang ditanam dengan sabar di tanah hati anak-anak SDK 016 Woloone. Mereka belajar mencintai tanah mereka, menghormati sesama, memahami tanggung jawab, dan menjaga bumi dengan tangan dan imajinasi mereka sendiri.
Dalam terang iman Katolik, kegiatan ini adalah wujud nyata dari panggilan untuk menjadi garam dan terang dunia. Karena itu, anak-anak ini bukan sekadar murid di kelas, mereka adalah pewaris ciptaan Tuhan, mitra kecil dalam menjaga bumi yang Ia ciptakan dengan penuh kasih.
Seperti Yesus yang memeluk anak-anak dan mengatakan bahwa kerajaan surga adalah milik mereka. Demikian pula program ini adalah pelukan hangat Gereja kepada generasi masa depan. Sebab di balik tawa dan puisi, ada gema harapan yang lembut namun kuat bahwa dunia ini akan lebih baik, karena di Woloone, anak-anak belajar mencintai dan melindungi kehidupan dari cerita rakyat hingga poster aksiku untuk bumi
Dan itulah perlindungan anak yang sejati. Melindungi anak bukan hanya dari bahaya, tetapi juga dari lupa akan jati diri, sesama, dan rumah besar bernama bumi. (Feature: Christian Romario/ Foto dan activity report: Yuliana Jata)

