Semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama melalui aksi nyata yang ditanamkan kepada para murid telah ditunjukkan oleh salah satu sekolah milik Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT), SDK Maumere III. Hal itu terwujud melalui kegiatan solidaritas masa Prapaskah 2026, yang hasilnya disalurkan kepada anak-anak di SOS Waturia.
Kegiatan ini merupakan implementasi dari Janji Murid, khususnya pada poin “Menyayangi Teman dan Saling Menolong.” Selama masa Prapaskah yang lalu, sekolah membuat gebrakan dengan menyediakan kotak amal sebagai sarana bagi murid untuk belajar berbagi dengan sesama yang membutuhkan.
Menariknya, partisipasi dalam kegiatan ini tidak diwajibkan kepada seluruh warga sekolah. Dana yang terkumpul berasal dari uang jajan yang dengan sukarela dan ikhlas disisihkan oleh para murid. Dari aksi sederhana tersebut, berhasil terkumpul dana dengan nilai yang cukup untuk membelanjakan berbagai kebutuhan harian, seperti sabun, sampo, pasta gigi, pulpen, kaos kaki, dan pakaian dalam.
Sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam aksi solidaritas ini, perwakilan guru dan murid mengantarkan bantuan tersebut ke SOS Waturia pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Kepala SDK Maumere III, Rufina Deko, S. Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak semata-mata bertujuan mengumpulkan bantuan, tetapi lebih jauh untuk menanamkan nilai empati dan kepedulian kepada para murid.
“Harapan saya, anak memiliki rasa empati dan peduli pada sesama yang berkekurangan meskipun mereka juga berkekurangan,” ungkapnya.
Ia juga menerangkan bahwa melalui kegiatan ini, para murid belajar bahwa berbagi tidak harus menunggu memiliki banyak. Dari sebagian kecil uang jajan yang disisihkan dengan tulus, mereka telah menghadirkan sukacita bagi sesama yang membutuhkan.
Ketua Sanpukat, RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th. (RD. Okto), memberikan apresiasi kepada sekolah, para guru, dan murid yang telah menghidupi nilai solidaritas melalui tindakan nyata. Menurutnya, kegiatan semacam ini membuktikan bahwa bantuan yang berarti justru terkadang datang dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus.
“Sering kali kita berpikir bahwa bantuan harus besar agar dapat berarti. Padahal, dari uang jajan yang disisihkan sedikit demi sedikit, para murid telah menunjukkan bahwa hal kecil dan sederhana pun dapat menjadi berkat bagi orang lain yang membutuhkan,” ujarnya.
Ia menilai bahwa kegiatan tersebut bukan hanya membantu penerima manfaat, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter yang sangat penting bagi para murid.
“Yang paling berharga dari kegiatan ini bukan semata-mata nilai bantuan yang diberikan, melainkan tumbuhnya hati yang peduli. Ketika anak-anak dibiasakan berbagi sejak dini, mereka sedang belajar menjadi pribadi yang peka, berempati, dan siap membangun solidaritas di tengah masyarakat dan umat,” terang RD. Okto.
RD. Okto juga berharap agar semangat berbagi yang ditunjukkan para murid selama masa Prapaskah ini tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan semata, tetapi menjadi kebiasaan hidup yang terus mereka bawa ke mana pun mereka berada. (Wue Admin)

