Bersama Badan Aksi Solidaritas Pendidikan Keuskupan Maumere (KUM), Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT) kembali mengadakan sosialisasi aksi solidaritas pendidikan pekan kedua pada 6-7 Maret 2026, bertempat di Aula Sanpukat. Sosialisasi kali ini menjadi giliran para kepala sekolah dari TPAPT Habikewa dan H2B (Jumat, 6 Maret 2026), dan TPAPT Lio (Sabtu, 8 Maret 2026).
Bendahara Keuskupan Maumere, RD. Fancy Sare, dalam pemaparannya menampilkan fakta bahwa persentase keterlibatan dan keaktifan tiap sekolah Sanpukat dalam program aksi solidaritas pendidikan ini sangat bervariasi. Menariknya, dari grafik yang ditampilkan, ada beberapa paroki yang keterlibatannya dalam solidaritas pendidikan ini berubah drastis. Ada yang meningkat pesat, tetapi ada juga yang menurun, bahkan tidak aktif.
Dalam sesi dialog, para kepala sekolah merespons fakta tersebut secara jujur dan terbuka. Mereka mengaku, bahwa ada hal-hal situasional di sekolah dan paroki yang memengaruhi keaktifan, di antaranya kurangnya informasi, tidak ada sosialisasi di paroki, peralihan kepemimpinan kepala sekolah, hingga kekecewaan terhadap Sanpukat yang dinilai abai terhadap sekolah-sekolah miliknya.
Terhadap hal ini, Ketua Badan Aksi Solidaritas Pendidikan yang juga merupakan mantan Ketua Sanpukat (2000-2010), RD. Kanisius Mbani, memohon maaf apabila para pastor paroki atau pun timnya kurang melakukan sosialisasi dan menggencarkan informasi ini. Ia pun memaklumi apabila peralihan kepemimpinan sekolah turut memengaruhi, termasuk kekecewaan terhadap Sanpukat.
“Perlu dicatat, bahwa program aksi solidaritas pendidikan ini bukanlah hutang, dan kami mengundang bapak ibu kepala sekolah ke sini, bukan untuk menagih hutang dari program ini. Data yang ditampilkan tadi, khususnya yang bolong-bolong itu, sebenarnya ingin menunjukkan kepada kita semua bahwa sebelumnya kita pernah aktif terlibat dalam aksi ini dan pernah semangat menunjukkan solidaritas kita kepada sesama dalam bidang pendidikan. Namun, semangat itu menurun karena beberapa alasan yang sudah disebut tadi,” ujar pastor yang kini memimpin Kuasi Paroki St. Arnoldus Janssen ini.
“Saya juga bersama para pastor paroki memohon maaf apabila kami kurang melakukan sosialisasi dan memberikan informasi kepada umat sekalian. Selain itu, kita memahami, bahwa rasa kecewa terhadap Sanpukat sempat memengaruhi persentasi keaktifan dalam program ini. Tapi kita tidak sedang membicarakan masa lalu. Saya kira, dengan kepemimpinan RD. Okto saat ini, Sanpukat sudah mulai berbenah, termasuki melakukan banyak kunjungan ke sekolah-sekolah,” sambungnya lagi.

Terhadap poin terakhir ini, beberapa kepala sekolah merespon secara positif, bahkan membangun komitmen untuk terlibat aktif dalam program ini.
“Sebelumnya, kami memang pernah bolong pada tahun-tahun tertentu karena peralihan kepemimpinan, dan kami kekurangan informasi soal solidaritas pendidikan. Namun, setelah mendapat kunjungan dari pastor paroki tahun lalu, dan semangat dari Ketua Yayasan yang baru, sekolah kami berkomitmen untuk terlibat aktif dalam aksi solidaritas pendidikan ini,” ujar Agnes Vaniante Silinde, S.Pd., Kepala SMPK Watukrus Bola.
Satu hal menarik lain yang juga diangkat dalam sesi dialog adalah soal keterlibatan Taman Kanak-kanak (TK) dalam aksi solidaritas ini. Memang dalam data yang tersaji, ada beberapa TK yang setia menunjukkan aksi solidaritasnya, salah satunya adalah TK Ate Dhoa Wolofeo.
Namun, Sr. Chriswinda Jelena Siki, MHJE, S.Pd., Kepala PAUD St. Jerome Emiliani Institute Bola, mempertanyakan tentang alasan dari program ini yang kesannya hanya diperuntukkan bagi jenjang SD sampai Perguruan Tinggi (PT), padahal ada TK yang menerima manfaat darinya.
Terhadap pertanyaan ini, RD Kanis mengapresiasi semangat bersolidaritas dari TK-TK milik Sanpukat.
“Sebenarnya, pertanyaan ini mengulang kembali pertanyaan dari beberapa kepala TK pada sosialisasi minggu lalu. Saya sangat mengapresiasi semangat solidaritas dari TK-TK Sanpukat. KIta mengantisipasi, jangan sampai aksi ini membebankan anak-anak, tetapi rupanya para orangtua juga punya semangat solidaritas. Saya sangat mengapresiasi akan hal itu,” ujar RD. Kanis.
Sementara itu, Ketua Sanpukat, RD. Yulius Heribertus, S. Fil., M. Th., mengapresiasi kehadiran dan keterlibatan para kepala sekolah dalam pekan kedua ini, bahkan ada beberapa kepala sekolah yang tidak hadir pada pekan pertama, menyempatkan waktu untuk hadir pada pekan kedua ini.
“Terima kasih kepada bapak ibu kepala sekolah yang mengindahkan undangan dari Sanpukat ini. Apa yang kita kumpulkan ini akan kembali kepada kita juga. Jadi, saya harap sekolah-sekolah Sanpukat terlibat aktif dalam program ini,” katanya.
“Banyak yang berkomentar kalau Sanpukat itu tidak buat apa-apa, dan hanya urus SK saja. Namun, ketika Sanpukat mengadakan sosialisasi, pelatihan, atau workshop, dan mengundang kehadiran mereka, mereka tidak pernah datang, lalu bilang kalau Sanpukat hanya urus SK. Yah, itu karena mereka datang hanya waktu mau urus SK. Mulai saat ini, saya akan bertindak tegas apabila ada kepala sekolah yang secara akumulatif tidak mengindahkan undangan dari Sanpukat,” terang RD. Okto. (Wue Admin)

