Di sekolah-sekolah, pendidikan tak pernah benar-benar netral. Di satu sisi, pendidikan dapat menciptakan ruang kebebasan dan kreativitas. Namun, di sisi lain, pendidikan bisa menghasilkan guru, peserta didik, dan komunitas sekolah yang pasif, patuh, dan seragam. Inilah dua fenomena yang tidak hanya menggambarkan kondisi di sekolah, tetapi menampilkan hubungan antara individu dan kelompok.
Bagi filsuf eksistensialis, Jean-Paul Saltre, kelompok bukan sekedar sekumpulan orang, melainkan sebagai medan tegangan organisasi dan lembaga. Organisasi, dalam bahasa Sartre, adalah aksi kelompok berikrar pada dirinya sendiri di mana kelompok tidak lagi hanya bergerak maju, tapi juga memandang kembali, membentuk struktur, menetapkan peran, dan mulai membedakan antara siapa yang melakukan apa, dan mengapa. Ada distribusi tugas di sana sebab setiap anggota diberi peran, tanggung jawab, dan fungsi yang memberikan identitas dalam kelompok. Tapi lebih dari itu, ada refleksi diri. Mereka bertanya: siapa kita? dari mana kita datang? ke mana kita hendak pergi?. Refleksi ini memungkinkan kelompok untuk memeriksa sejarahnya, strukturnya, tujuan konkretnya, dan cara mencapainya secara sadar. Dan Sartre menyebut momen ini sebagai momen pertama konkresi. (Bassiri, 2024)
Kesadaran kelompok tentang dirinya sendiri adalah syarat pertama bagi pendidikan yang bermakna. Dalam konteks ini, pendidikan itu sendiri dipahami sebagai bentuk praxis yang unik dan tindakan reflektif kelompok terhadap dirinya sendiri yang berkontribusi pada pemahaman diri kolektifnya. Karena hanya kelompok yang merefleksikan dirinya secara kolektif yang bisa membuka ruang bagi pendidikan sebagai kebebasan. Maka dari itu, organisasi adalah rumah pertama bagi pendidikan yang hidup. (Bassiri, 2024)
Namun tidak semua kelompok hidup. Beberapa mengeras. Beberapa membeku menjadi institusi.
Dalam institusi, refleksi berhenti. Yang tersisa adalah aturan, prosedur, dan rutinitas. Individu tidak lagi menjadi subyek yang mencipta dan berefleksi, tapi fungsi yang patuh. Dalam institusi, hubungan individu dan kelompok terbalik, cenderung hierarkis sehingga membuat individu menjadi tidak esensial atau hanya berfungsi sesuai peran yang kaku. Begitu halnya dengan refleksi tidak melibatkan semua anggota, tetapi hanya dilakukan oleh seorang individu atau sub-kelompok yang mendominasi dan mengatur anggota kelompok lainnya dari atas. Insitusi menetapkan siapa yang bicara, dan siapa yang hanya menerima. Karena itu, institusi melayani penguasa (sovereign) atau tatanan yang sudah mapan. (Bassiri, 2024)

PENDIDIKAN BERKOMITMEN DAN PENDIDIKAN TERINSTITUSI
Dinamika kelompok antara organisasi dan lembaga ini menampilkan kembali wajah pendidikan di mana yang satu berkomitmen pada kebebasan dan yang lainnya terinstitusi. Pada model organisasi, wajah pendidikan yang muncul adalah pendidikan berkomitmen karena menekankan kebebasan dan kreativitas. Pendidikan berkomitmen sadar bahwa setiap proses belajar adalah proses membentuk manusia. Dan bahwa manusia adalah makhluk bebas yang tidak bisa dijadikan alat dari sistem. Karena itu, Ia memberi ruang bagi subyektivitas sekaligus membimbingnya dalam dinamika kelompok.
Pendidikan berkomitmen bukanlah anarki pedagogis, tapi keterlibatan sadar dalam menciptakan makna yang mengarah pada personalisasi. Di sini, guru, murid,dan komunitas sekolah adalah communitas imaginans, komunitas yang berimajinasi. Dan di sinilah letak resistensi paling mendasar dari pendidikan yakni dalam kemampuan untuk membayangkan dunia yang lain.
Kemampuan berimajinasi memungkinkan guru, peserta didik, dan komunitas sekolah untuk merefleksikan kondisi dan kekurangannya saat ini, merefleksikan ketimpangan antara harapan dan kenyataan yang ada di sekolah, ruang kelas, maupun dalam pembelajaran. Kemudian membayangkan kemungkinan dunia lain sebagai perlawanan terhadap bentuk-bentuk pendidikan dan praktek-praktek kehidupan sekolah saat ini yang menindas. Perlawanan/ resistensi ini ditujukan terhadap ossifikasi (pembekuan) dan keterasingan guru, peserta didik, dan komunitas sekolah terhadap pemaksaan nilai, pedagogi, dam sistem yang saling bertentangan namun dipaksakan oleh yang berkuasa.
Namun, pendidikan yang berkomitmen berpotensi juga merosot menjadi Institusi di mana refleksi bisa mengeras menjadi dogma dan distribusi tugas bisa membeku menjadi hierarki. Institusi merupakan bentuk terdegradasi dari organisasi. Di sini, relasi menjadi satu arah dan pendidikan menjadi instrumen reproduksi sosial, bukan emansipasi eksistensial. Dalam pendidikan terinstitusi, refleksi tidak terjadi bersama, melainkan dipaksakan dari atas, dari orang-orang yang berkuasa. Begitu halnya Imajinasi tidak dibangkitkan, tetapi dipetakan. Dan di ruang-ruang sekolah seperti itu, guru, peserta didik, dan komunitas sekolah dijadikan hommes perceptuels atau manusia perseptual, yang hanya menangkap dan mengulang, tetapi tidak diminta bertanya, apalagi menyangkal. (Bassiri, 2024). Mereka cukup hadir, menjalankan tugas, dan patuh pada perintah atasan
PENDIDIKAN TAK HARUS PATUH
Sampai di sini orang pun menemukan titik krusial pendidikan di mana pendidikan bukan sekadar persoalan pembelajaran atau kurikulum, melainkan juga cerminan dari bentuk kelompok macam apa yang ditumbuhkan di sekolah. Apakah sebuah kelompok yang memilih untuk menjadi organisasi yang merefleksikan dirinya, membuka ruang bagi perbedaan, dan memelihara imajinasi sebagai kekuatan perlawanan terhadap praktek-praktek pendidikan yang menindas guru, murid, dan komunitas sekolah. Ataukah kelompok yang merosot menjadi institusi yang cenderung hierarkis dan menghasilkan guru, murid, dan komunitas sekolah yang pasif dan patuh supaya kelompok yang berdaulat (berkuasa) bebas menggunakan kewenangan dan dana tanpa kontrol.
Barangkali pendidikan sejati memang harus sedikit tak patuh. Ia harus membuka imajinasi dan ruang bagi guru, peserta didik, dan komunitas sekolah untuk menolak saat perlu dan bertanya ketika ada yang tidak adil. Karena tanpa itu, sekolah hanya akan melahirkan manusia yang lancar menimba pengetahuan dan menampung akreditasi, tapi tak pernah bertanya:
Mengapa? (Christian Romario)

