Perikop: Lukas 12:35-38
Dalam Injil yang kita dengarkan tadi, Yesus mengajak para murid untuk selalu siap sedia, seperti hamba-hamba yang menantikan tuannya pulang dari pesta perkawinan. Yesus berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (Lukas 12:35). Pada zaman itu, seorang hamba harus siap bekerja dan melayani kapan saja tuannya tiba. Pelita yang tetap menyala menjadi tanda bahwa ia tidak lengah dalam menantikan kedatangan tuannya.
Melalui gambaran ini, Yesus mengingatkan kita bahwa mengikuti-Nya berarti menjalani hidup dengan hati yang siap, bukan hanya menunggu saat-saat penting, tetapi juga setia dalam setiap tugas dan tanggung jawab sehari-hari.
Menjadi orang yang siap sedia bukan berarti hidup dalam ketakutan atau terus-menerus khawatir akan masa depan. Kesiapsediaan berarti memiliki kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk melakukan yang baik dan benar. Kita tidak pernah tahu kapan kesempatan untuk membantu sesama datang, kapan seseorang membutuhkan perhatian kita, atau kapan sebuah keputusan kecil menentukan arah hidup kita.
Karena itu, kesetiaan tidak hanya terlihat dalam tindakan besar yang mendapat pujian, tetapi juga dalam hal-hal sederhana yang sering tidak diperhatikan orang lain. Orang yang sungguh siap adalah orang yang tetap melakukan tanggung jawabnya dengan baik, sekalipun tidak ada yang mengawasi dan tidak ada penghargaan yang menantinya.
Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, Sabda Yesus ini mengajak setiap kita untuk tetap setia menjalankan tugasnya. Para siswa menunjukkan kesiapsediaan dengan belajar sungguh-sungguh, mengerjakan tugas dengan jujur, menghargai guru, dan membantu teman tanpa harus disuruh. Para guru menunjukkan kesetiaan dengan mempersiapkan pembelajaran, mendampingi siswa dengan sabar, serta tetap menjadi teladan dalam perkataan dan tindakan. Sementara itu, seluruh komunitas sekolah dipanggil untuk menjaga semangat pelayanan, meskipun kadang menghadapi keterbatasan dan tantangan.
Kita tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk melakukan sesuatu yang berarti. Hari ini, kita dapat menyalakan pelita melalui satu tindakan sederhana: menyelesaikan tugas dengan bertanggung jawab, menghibur teman yang sedih, atau melayani dengan tulus tanpa mengharapkan pujian. Sebab, hati yang selalu siap menyambut Tuhan adalah hati yang tidak pernah lelah melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. (Wue Admin)

